Skip to main content

[Review] Critical Eleven


Alkisah, Jumat kemarin Bapak masuk rumah sakit pasca terjatuh di pekarangan saat menyiram tanaman, kesibukannya setelah pensiun. Aku pun kemudian pulang, menunggui di RS. I was bored as I had nothing to do to kill the time, aku memutuskan untuk jalan kaki ke mall terdekat, beli buku. Aku menamatkan buku ini kurang dari 24 jam, luxurious me time I rarely had nowdays.

This book is really recommended. Alurnya bagus, ceritanya bagus, emosinya ngena banget. Banyak pelajaran yang bisa didapatkan. Tentang independensi, tentang komitmen dalam pernikahan, tentang kehilangan, tentang berjuang menyembuhkan sakit hati.


  1. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good nor bad, it just happens.
  2. Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, jangan mau gampangnya saja. Hal -hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.
  3. Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalaminya sendiri.
  4. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier.
  5. The best thing for being sad is to learn something. That is the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder in your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewer of based mind. There is only one thing for it then, to learn. Learn why the world wags and what wags it.
  6. In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.
  7. What's between a man and woman in a marriage is only between the man and the woman.
  8. Marriage is a little bit like gambling, isn't it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that.
  9. We didn't know what we really wished for.
  10. To women, how you deliver the message is sometimes more important than message itself.
  11. Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan.
  12. Kita sering lupa kisah cinta sejati itu tidak harus dari buku dan film yang mengaduk-aduk emosi saking pintarnya si penulis atau sutradaranya. Kisah cinta paling indah sebenarnya adalah yang ditulis Tuhan sendiri dan nyata di sekeliling kita.
  13. Namun jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi.
  14. Buying the ring is one thing, but proposing is a whole other thing.
  15. If we got all that covered, everything else will take care of itself, right?
  16. Banyak teori yang membahas seberapa besar sebenarnya kapasitas otak kita, tapi tidak ada yang pernah membahas kapasitas hati. Seberapa banyak dan seberapa dalam emosi yang sebenarnya kuat ditanggung hati kita, dan seberapa lama, sampai kita meledak atau menyerah.
  17. Tidak ada yang lebih menyakitkan dan menyedihkan dibanding dikhianati diri sendiri.
  18. Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.
  19. Kalau kita berbuat baik dan benar dan bisa membahagiakan orang, kita akan mendatangkan cinta buat sekitar dan diri sendiri.
  20. A dream is a wish that your heart makes.
  21. Some wish remains a wish for as long as we life. Bukan karena kita kurang berusaha, namun karena memang sudah begitulah takdirnya.
  22. Banyak hal di dunia ini yang semakin mudah jika semakin sering kita lakukan.
  23. Hati punya aturan dan caranya sendiri.
  24. Kita punya sekelumit bagian dari hidup yang bisa melumpuhkan kita seketika, tanpa aba-aba.
  25. Life is the sum of our choices.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2010

Seperti tahun - tahun sebelumnya, ketika penghujung tahun dan menjelang pergantian ke tahun yang baru, saya biasanya memberikan waktu untuk merenung. Merefleksi segala yang telah terjadi di tahun itu. Memahami dan mempelajari, mengapa bisa terjadi seperti itu, dan tentu saja belajar dari kejadian tersebut, mengambil hikmah darinya. Setelah itu, saya menyusun daftar resolusi, ambisi dan harapan untuk satu tahun ke depan. And h ere's my must to do list for the upcoming year 2010: Hold tighter to my faith. Meningkatkan iman dan takwa. Jadi lebih religius. Menjauhi larangan dan melaksanakan segala perintah-Nya. Sholat lebih khusyu', ngajinya harus lebih rajin, infaqnya nggak boleh berhenti. Nggak hanya ngerjain yang wajib, tapi yang sunah juga. Jadi lebih dewasa dan bijaksana. Kata pepatah "menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan". Dan saya memilih yang kedua, I'm still trying to.. Positive thinking. Biar nggak cepet stres. Konon, positive thinkin...

Pria Enggak Mau Wanita Pedekate Lebih Dulu

KOMPAS.com - Apa yang sebenarnya diharapkan pria dari sosok wanita, sehingga ia tak mungkin berpaling kepada wanita lain? Aih... kesannya sungguh sulit. Namun menurut Lisa Daily, kolumnis relationship dan penulis buku Stop Getting Dumped , hal ini bukannya tak mungkin. Dalam bukunya, Daily menjamin kita bisa menemukan pria impian, dan menikahinya dalam waktu tiga tahun atau kurang. Ia sendiri mengikuti nasihatnya sendiri, dan menikah dengan pria impiannya, yang melamarnya di puncak Menara Eiffel setelah berpacaran 6 bulan. Daily telah mewawancara ratusan pria single untuk mengetahui apa sih yang membuat wanita berpotensi menjadi istri mereka. Coba lihat beberapa penemuannya: 1. Anda memiliki banyak aktivitas . Dengan demikian, Anda bisa menyibukkan diri tanpa harus bergantung pada keberadaan si dia. Anda bebas bepergian dengan teman-teman atau keluarga. "Anda tak perlu mengharapkan kekasih untuk selalu ada di sisi Anda," ujar Daily. Dengan kata lain, Anda tak perlu menunggu ...

Antara Aku, ASI dan Surabaya

Kata orang, tinggal di kota besar perlu banyak biaya. Barang yang murah hampir tiada. Kerasnya hidup kian terasa. Dan itu memang benar adanya. Meski begitu, ada sisi menyenangkan dari tinggal di Surabaya. Banyak pilihan yang tersedia. Yang paling kerasa adalah dokter dan rumah sakit banyak adanya. Aku jadi bisa milih mana yang paling pas dengan kebutuhan dan kantong tentu saja. Di Surabaya. Salah satu mimpiku terwujud. Bisa IMD, rooming in dan ketemu konselor laktasi. Hingga bisa lancar menyusui. Bisa nyetok ASIP bahkan mendonorkannya kepada mereka yang membutuhkan. Sekarang  Bintang sudah lulus ASI ekslusif. Senang bisa melewati seperempat perjalanan menyusui. Memang sih biaya dokter dan RS lebih mahal di Surabaya. Tapi jauh lebih menyenangkan dan memudahkan ketimbang hidup di kota kecil yang dokternya masih jarang atau malah nggak ada. Aku bersyukur tinggal di Surabaya. Ah ya, Surabaya memang punya banyak cerita b...