Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Tidak Pergi

Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. (Bang Ape, dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu - Tere Liye) Kamu masih ada di pojokan hati. Iya, kamu. Kamu yang sempat menggelitik hati. Kamu tidak pernah hilang dari kenangan, apalagi dari sejarah perjalanan hidupku. Kamu memang nggak selalu ada di pikiran, tapi sesekali hadir, cuma sekelebatan. Kadang mampir di mimpi tanpa permisi.  Elegi hadirmu masih berupa misteri. Belum terpecahkan hingga kini. Mungkin nanti, suatu hari. Atau mungkin tetap akan menjadi tanda tanya hingga aku, atau kamu, tiada.

Angan Mengawang

Ada angan yang sekian lama tertahan di awang - awang Juga air mata yang berjejalan untuk menggelinang Jauh di lubuk hati, ada gemuruh tak berkesudahan Kecamuk datang mengobrak - abrik perasaan Sementara otak sibuk memikirkan berbagai pertimbangan Kemanakah semuanya akan berkesudahan? Akankah kamu membantuku menemukan jawaban? just wait and see then :)

Tawa Itu Telah Tiada

Pada satu ketika, tawa kita berhenti tiba - tiba Berganti adu mulut, emosi tersulut Tak ada lagi sapa setelahnya Kita berpisah tanpa kata Di sebuah tikungan, kita balik badan Arah yang kita ambil berseberangan Kamu tetaplah kamu, dan aku tetaplah aku Argumentasi dan idealisme kita tidak bisa bertemu Meski hanya untuk satu waktu

Spasi

Kadang kita lupa memberi spasi Pada deretan kata yang harus dirangkai Spasi memang membatasi Tapi spasi mencipta harmoni Spasi memberi jeda agar kita dapat merasa Bahwa jarak itu perlu adanya Spasi memberi waktu pada kita Untuk memikirkan kata selanjutnya Spasi bisa menjadi pemberhentian sementara Untuk mengisi energi sebelum langkah berikutnya 30 Juni 2013

Hadiah Terindah

Pagi merekah Langit Memerah Tangis pecah Di hari kita menerima berkah Kamu justru terbaring lemah Berakhir dengan ditimbun tanah basah Dengan meninggalkan hadiah terindah Bayi Humairah

Ketika Sewindu

Seminggu lagi ulang tahun pernikahan kita yang sewindu Tapi belum ada obrolan untuk merayakannya seperti tahun - tahu terdahulu Aku belum punya ide, jadi aku menunggu kamu Sayangnya kamu sibuk melulu Tiba - tiba aku bertanya pada diriku Apakah perayaan itu sebenarnya perlu Kalau hubungan kita akhir - akhir ini membeku Kita sudah jarang ngobrol seru Apalagi bermesraan menikam waktu Ah, sudah langka sekali itu Mungkin karena rumah ini masih sepi Cuma ada kamu dan aku di rumah sebesar ini Di rumah ini belum ada tangis atau tawa bayi Karena anugerah yang sudah lama kita nanti Tak kunjung hadir di sini Mungkinkah kita terjebak pada rutinitas yang sama Dengan pernikahan sebagai pembungkusnya Kita berada di rumah yang sama Tidur di ranjang yang sama Makan di meja makan yang sama Mandi di kamar mandi yang sama Tapi tak ada lagi sesuatu yang terasa menyala di dada Kemanakah perginya cinta yang dulu kita puja? Apakah dia sudah pergi dari hati? Atau sebenarnya dia m...

Rahasia di Balik Hujan

Hujan di luar begitu deras Aku asyik memandang derai air yang turun dari teras Waktuku untuk ke kantor sudah tiba, namun aku enggan bergegas Aku justru berharap hujan turun semakin deras Sejurus kemudian aku berlari Berbaur dengan hujan yang membasahi bumi Aku berdansa dalam guyuran air seperti anak kecil yang kulihat tempo hari Aku jatuh cinta pada hujan Karena di sana satu rahasiaku tersimpan Aku bisa menangis puas tanpa ketahuan Sebab air mataku akan jatuh menyatu lalu berderaian ke selokan

Pengemis Masa Kini

Seorang ibu terlihat sering melintasi kompleks perumahan Dia mengandalkan hidupnya dari belas kasihan Banyak yang iba, namun banyak juga yang  mengabaikan Perempuan itu masih muda Terlihat segar dan bertenaga Aku awalnya iba Namun itu berubah seketika Ketika aku menemukan dia Asyik dengan Blackberry di tangannya Aku tak tahu itu milik siapa Tapi yang pasti dia tampak mahir mengoperasikannya Mungkin inilah sosok pengemis masa kini Tampil gaya meski harus dengan meminta - minta Lalu, haruskah kita tetap iba padanya? Pilihan itu ada di tangan Anda

Bisu... Membeku...

Kita terpaku Diam membisu Yang ada hanyalah desah nafas yang memburu Dan sesekali tergugu Entah karena kelu Bakal menahan rindu Atau hendak mengatakan sesuatu Berulang kali kita mencoba bicara Tapi tak pernah mampu Cuma mata kita yang terus beradu Mengharapkan waktu menjadi beku Agar kebersamaan ini tak cepat berlalu 19 Juli 2011, menjelang subuh.  Hari terakhir di kos Karang Menjangan IV/9B. And all the memories are not easy to fade away.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Kata dan Waktu

Kata bukanlah segala - galanya Waktu itu kita sudah berusaha sekuat tenaga Tapi kata tak pernah mampu menjelaskan apa yang kita rasa Kita pun menjadi putus asa Kita lantas memilih untuk bergulat dengan keyakinan masing - masing ketimbang duduk bersama dan bicara berdua Untuk menyelesaikan prahara yang ada Namun, selang waktu berganti, ketegangan itu perlahan binasa Waktu mungkin memang tidak menyembuhkan luka Tapi waktu mengajarkan banyak hal yang tidak bisa diungkapkan melalui kata Waktu mengajari untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada Belajar untuk merelakan sesuatu yang dulu kita punya Belajar untuk hidup tanpa sesuatu yang dulu kita cinta P.S. Untuk kamu. Ternyata masalahnya cuma satu, kita butuh waktu, untuk bisa menjadi seperti dulu.

Dupa Aneka Warna

Api menyala sempurna Membakar dupa aneka warna Asapnya menebar aroma bunga Mengiring tertutupnya mata Seiring kantuk yang datang menyapa Semoga wanginya mampu menghilangkan semua resah yang melanda Jangan khawatir sayang, insyaallah aku akan baik - baik saja di sana Tidurlah yang nyenyak duhai pria yang kucinta Tunjungan Plaza, 19 Juni 2011 Beberapa hari menjelang keberangkatanku.

Asa dan Rasa

Aku sudah meminta Sudah berusaha Juga sudah berdoa Tapi Tuhan belum memberinya Mungkin Tuhan sedang mengajakku bercanda Atau mungkin memang belum waktunya Di balik semua gejolak yang ada Aku berusaha keras untuk menerima dan percaya Bahwa dalam satu ketetapan selalu ada rahasia Yang terbaik untukku nantinya Kali ini aku kembali secara khusus berdoa lama Mencurahkan semua asa dan rasa Semoga Tuhan berkenan mewujudkannya menjadi nyata Amin... 20 Februari 2010 Selepas sholat maghrib di Masjid As Syura, Jl. Gubeng Kertajaya XI

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...

Ada Apa Sebenarnya?

Ada apa dengan Maret? Alam bawah sadar saya seakan tak berhenti mengarah ke sana Rasanya bukan kebetulan belaka Melainkan suatu pertanda Tapi entah apa Semoga semua baik - baik saja Amin Suatu sore ketika semuanya berkelebat

Kamu dan Dia

Kamu dan dia Sama - sama hadir dalam jiwa Memberi rasa Menuang banyak warna Menggoreskan banyak cerita Dalam porsi berbeda Yang tak akan pernah sama Tapi justru itulah yang aku suka Dan aku sangat berterimakasih karenanya P.S Untuk semua yang membuat hidupku berwarna... :)

Leaving

If you should really go, find ur new place, could I go there somehow?? :( once, i thought it would be "nice" if the one who should leave this city isn't me.. now, I realize that actually I never, never ready for ur leaving.. could I hold you somehow? or should I hide so you don't have to see me cry?? hi rain!! would you please help me wash away this fear? or at least these tears?? has been tweeted @ratnawahyu after hearing news about your possibility of leaving.