Skip to main content

Belajar Sabar (Part 1)

Sebulan ini saya belajar tentang banyak hal mengenai kehidupan dan bagaimana menjalani. Ini terjadi setelah saya mengalami sebuah masalah yang cukup complicated. Klasik memang, orang baru sadar setelah kebentur. Tapi setidaknya saya akhirnya sadar. Saya mau belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan. Dan tekad saya adalah untuk tidak mengulanginya di kemudian hari. Jalan untuk itu tentulah tidak mudah. Karena orang terlanjur marah atau bahkan menganggap remeh. Kalau menatap sebelah mata atau malah tak mau menatap, saya bisa bersikap biasa, meski sebenarnya selalu mengurut dada. Tapi yang saya rasakan paling berat adalah saat mereka, yang merasa "punya urusan" dengan masalah ini, terus - menerus menyakiti saya. Kata - kata yang tak pantas semisal sindiran dan celaan hingga kini masih terus dilontarkan. Dan itu benar - benar menjadi ujian berat bagi saya.

Bersabar dan terus bersabar. Itulah yang saat ini saya lakukan. Saya masih belajar dan terus belajar untuk bisa melakukan itu. Karena ini melawan sifat saya yang suka berontak saat ada yang mencari gara - gara dengan saya. Saya berprinsip, saya tak mau cari gara - gara, tapi kalau ada yang cari masalah dengan saya, oke saya ladeni. Namun, prinsip itu tak berlaku lagi kini, setidaknya saya pinggirkan dulu saat ini.

Saya tanamkan erat - erat pada pikiran dan hati saya, bahwa mengalah belum tentu kalah. Dan bahwa Allah selalu bersama orang - orang yang sabar. Susahnya setengah mati, dan tak jarang saya menangis karenanya, menjerit pilu dalam hati. Saya tak pernah berhenti berdoa, agar mereka benar - benar membukakan pintu maafnya untuk saya. Sebenarnya saya sudah minta maaf, dan mereka bilang sudah memaafkan, tapi kenapa sampai sekarang masih terus - menerus meluapkan amarah yang seakan tak berkesudahan. Menurut saya maaf mereka baru di bibir saja, tapi hati belum bicara. Saya terus berdoa, dengan segenap keyakinan dan harapan. Saya percaya Gusti Allah ora sare. Allah adalah sebaik - baik hakim yang pernah ada. Saya tak perlu selalu membalas perlakuan mereka, karena Allah pasti akan membalas perbuatan itu suatu hari nanti. Entah kapan dan bagaimana caranya.

Sampai suatu malam, saya mendengar berita yang cukup mengejutkan. Salah satu dari orang yang memusuhi saya kecelakaan. Perasaan saya campur aduk saat itu. Jujur di satu sisi saya akhirnya bisa bernafas lega, karena Allah telah menunjukkan salah satu keadilan-Nya. Rasanya saya ingin nyukurin, tapi saya tak tega. Rasa manusiawi saya terpanggil. Meski luka fisiknya tak pernah mengobati luka hati saya, saya berharap ini jadi pelajaran yang berharga buatnya. Semoga dia sadar setelahnya. Dan pada sholat saya, saya menyebut namanya, memanjatkan doa demi kesembuhannya. Saya sampai meneteskan air mata dalam doa saya.

Tapi dugaan saya itu ternyata salah. Di tengah musibah yang menderanya, dia masih bisa dan terus mengeluarkan statement yang mengusik ketenangan dan kesabaran saya. Niat baik saya menanyakan kabarnya malah berujung penghapusan saya dari friend list Facebook-nya. Rasanya teramat sakit. Seperti sembilu yang dihujamkan berkali - kali ke jantung saya. Saya tak jarang menangis karenanya. Satu - satunya yang bisa saya lakukan adalah beristigfar, menghela nafas panjang demi menjaga emosi. Agar suasananya tak mengeruh. Meski kesabaran ini seringkali terasa hampir luruh. Setiap kali emosi saya sudah berada di ubun - ubun karena kelakuannya, saya kembali mengingat kalimat "sakti" yang saya jadikan pegangan.

Jujur, saya ingin mendapatkan pembelaan atau setidaknya pelurusan terhadap stigma yang terlajur menempel pada diri saya. Dia adalah juru kunci, memegang kendali atas pemulihan nama baik yang sangat saya harapkan. Tapi sepertinya dia tidak terlalu bisa diharapkan, setidaknya untuk saat ini. Sampai saat ini yang dia lakukan adalah menyuruh saya terus bersabar, hanya itu. Saya ingin berteriak, tapi sepertinya tak akan merubah keadaan. Pembawaan dan pola asuh yang dia terima sedari kecil, membuatnya lebih memilih untuk bungkam dan menurut dari pada menghindari konflik, meskipun itu memperjuangkan sesuatu yang baik. Tapi ya sudahlah, saya percaya akan kemampuan diri saya, bahwa saya masih bisa membela dan melindungi diri saya. Dengan tetap berpasrah pada yang Maha Kuasa tentunya. Allah selalu bersama saya, bersama orang - orang yang sabar. Amin..

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2010

Seperti tahun - tahun sebelumnya, ketika penghujung tahun dan menjelang pergantian ke tahun yang baru, saya biasanya memberikan waktu untuk merenung. Merefleksi segala yang telah terjadi di tahun itu. Memahami dan mempelajari, mengapa bisa terjadi seperti itu, dan tentu saja belajar dari kejadian tersebut, mengambil hikmah darinya. Setelah itu, saya menyusun daftar resolusi, ambisi dan harapan untuk satu tahun ke depan. And h ere's my must to do list for the upcoming year 2010: Hold tighter to my faith. Meningkatkan iman dan takwa. Jadi lebih religius. Menjauhi larangan dan melaksanakan segala perintah-Nya. Sholat lebih khusyu', ngajinya harus lebih rajin, infaqnya nggak boleh berhenti. Nggak hanya ngerjain yang wajib, tapi yang sunah juga. Jadi lebih dewasa dan bijaksana. Kata pepatah "menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan". Dan saya memilih yang kedua, I'm still trying to.. Positive thinking. Biar nggak cepet stres. Konon, positive thinkin...

Pria Enggak Mau Wanita Pedekate Lebih Dulu

KOMPAS.com - Apa yang sebenarnya diharapkan pria dari sosok wanita, sehingga ia tak mungkin berpaling kepada wanita lain? Aih... kesannya sungguh sulit. Namun menurut Lisa Daily, kolumnis relationship dan penulis buku Stop Getting Dumped , hal ini bukannya tak mungkin. Dalam bukunya, Daily menjamin kita bisa menemukan pria impian, dan menikahinya dalam waktu tiga tahun atau kurang. Ia sendiri mengikuti nasihatnya sendiri, dan menikah dengan pria impiannya, yang melamarnya di puncak Menara Eiffel setelah berpacaran 6 bulan. Daily telah mewawancara ratusan pria single untuk mengetahui apa sih yang membuat wanita berpotensi menjadi istri mereka. Coba lihat beberapa penemuannya: 1. Anda memiliki banyak aktivitas . Dengan demikian, Anda bisa menyibukkan diri tanpa harus bergantung pada keberadaan si dia. Anda bebas bepergian dengan teman-teman atau keluarga. "Anda tak perlu mengharapkan kekasih untuk selalu ada di sisi Anda," ujar Daily. Dengan kata lain, Anda tak perlu menunggu ...

Antara Aku, ASI dan Surabaya

Kata orang, tinggal di kota besar perlu banyak biaya. Barang yang murah hampir tiada. Kerasnya hidup kian terasa. Dan itu memang benar adanya. Meski begitu, ada sisi menyenangkan dari tinggal di Surabaya. Banyak pilihan yang tersedia. Yang paling kerasa adalah dokter dan rumah sakit banyak adanya. Aku jadi bisa milih mana yang paling pas dengan kebutuhan dan kantong tentu saja. Di Surabaya. Salah satu mimpiku terwujud. Bisa IMD, rooming in dan ketemu konselor laktasi. Hingga bisa lancar menyusui. Bisa nyetok ASIP bahkan mendonorkannya kepada mereka yang membutuhkan. Sekarang  Bintang sudah lulus ASI ekslusif. Senang bisa melewati seperempat perjalanan menyusui. Memang sih biaya dokter dan RS lebih mahal di Surabaya. Tapi jauh lebih menyenangkan dan memudahkan ketimbang hidup di kota kecil yang dokternya masih jarang atau malah nggak ada. Aku bersyukur tinggal di Surabaya. Ah ya, Surabaya memang punya banyak cerita b...