Skip to main content

Menikmati Bali (Bagian 1)

Aku kembali ke Bali, setelah enam tahun berlalu. Waktu itu bersama IOP, kali ini bersama LPBI. Dikarenakan kondisiku sedang hamil, aku melewatkan sesi outing ke Nusa Penida. Yang aku lakukan adalah membaca buku, berbekal The Architecture of Love karya Ika Natassa hadiah ulang tahun dari suami. Membaca tanpa gangguan sudah merupakan liburan buatku, simple kan? Setelah mandi dan sarapan, kegiatanku adalah bersantai di hotel sambil menunggu jam sebelas untuk janjian dengan seorang teman.

Harris Hotel and Residence, Sunset Road
Aku sampai hotel jam 11 malam waktu Bali, sudah capek dan ngantuk, jadi nggak terlalu fokus sama hotel. Lobi hotel ini berkonsep semi terbuka karena tak berpintu, semacam teras yang bisa langsung mengakses halaman. Letaknya yang masuk ke dalam gang membuat suasana jadi tenang.





Aku mendapatkan kamar twin di lantai dua, kembali bersama Saras sebagai room mate. Bangunan di sekitar hotel didominasi warna putih dengan sentuhan oranye khas Harris. Begitu masuk kamar langsung happy mendapati guling di atas tempat tidur. Haha.






Kamar seluas 24 m2 ini dilengkapi day bed di dekat jendela, almari, pemanas air, kulkas, meja kerja dan televisi. Di atas tempat tidur ada lukisan bernuansa Bali. Pemandangan dari kamar adalah food street area yang buka ketika sore tiba.

Untuk kamar mandi dilengkapi shower dan hair dryer masih dengan interior berwarna oranye. Aku nggak suka wangi toiletriesnya, so aku pakai punyaku sendiri. Aku suka air panasnya nggak terlalu panas, pas dengan seleraku. Tapi sayang showernya ada bagian yang kurang rapat, jadi ketika digunakan ada semburan air yang tidak seharusnya. Oiya, sandal hotelnya lucu, sandal jepit berwarna oranye, tidak seperti sandal di hotel lain yang bentuknya selop.





Hotel ini kids friendly lho, ada outdoor playground dengan halaman berumput dan Dino Club di mana putra-putri Anda bisa bermain. Di samping resto ada kolam renang, untuk dewasa dan anak-anak. Beberapa kamar punya akses langsung ke kolam renang.





 


Untuk sarapan variasinya lumayan. Selain menu buffet, ada egg corner, healthy corner, salad, nasi campur, minuman herbal, sereal, bubur, mie ayam, american breakfast (sosis, potato wedges dan baked beans), aneka dessert dan herbal corner. Suasana resto selalu ramai ketika aku sarapan, namun staf resto cukup sigap membantu kebutuhan Anda. Makanannya biasa aja, nggak ada yang levelnya enak apalagi enak banget. Makanya aku ambilnya dikit-dikit, jadi kalau nggak enak masih bisa ngabisin, heheh.








Wifi di sini kenceng kok. Menurutku harga 500rb worth it dengan fasilitas yang ada. Yang aku suka dari Bali adalah banyak hotel yang harganya affordable dengan fasilitas yang lengkap.

Alamat:
Jalan Pura Mertasasari, Sunset Road, Kuta, Badung

Gusto Gelato
Gusto Gelato menjadi satu-satunya tempat kuliner yang ingin aku coba selama di Bali. Di sini aku janjian untuk ketemuan dengan Mintik, teman admin FB Group AIMI dari Bali. Jaraknya sekitar 4 KM dari hotel, aku memutuskan naik Go-Car dengan tarif dua belas ribu rupiah dibandingkan naik Go-Jek karena cuaca di Bali sedang panas banget. Sampai sana sekitar jam 11, dan masih belum ramai. Ada staf yang berjaga di depan pintu, menyambutku dengan ramah.








Sebelum menikmati gelato pilihan Anda, Anda harus terlebih dahulu ke kasir memilih ukuran gelato yang diinginkan. Aku pilih ukuran medium. Niat awalnya biar bisa ngicip aneka rasa, tapi endingnya pesan dua porsi matcha dan seporsi apple crumble. Matchanya enakk, sensasi pahitnya kerasa dan manisnya pas. Lalu apple crumble ini unik, ada kres-kres apelnya jadi berasa kayak makan pie versi es. Pilihan rasa di sini banyak banget, mulai dari rasa buah-buahan, hingga rasa yang jarang Anda temui, at least aku. Misalnya spicy chocolate, lemongrass, temulawak, basil, bika ambon, dsb.





Makin siang, pengunjung makin ramai. Anda bisa pilih duduk di indoor area atau di outdoor, kapasitas tempat duduknya lumayan banyak kok. Aku sih milih indoor karena panas banget dan mengindari asap rokok. Selain menjual gelato dan sorbet, mereka juga menjual camilan, kopi dan milkshake. Oh iya, waktu itu aku juga pesan Tarte au sucre sebagai cemilan pendamping. Modelnya sih dome, tapi tipis bertabur gula. Tapi aku menikmatinya dengan cara meminggirkan taburan gulanya dan kemudian mengolesi es krim di atasnya, mirip makan wafel gitu deh.






Alamat:
Jl. Mertanadi No 46B, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung

Price list:
Small (2 rasa): 25 K
Medium (3 rasa): 48 K
Large (4 rasa): 75 K
X-Large (5 rasa): 140 K
Cone (2 rasa): 28 K


Senja di Jimbaran

Setelah dari Gusto Gelato aku kembali ke hotel. Maunya tidur siang tapi nggak bisa, jadi melanjutkan baca. Sekitar jam setengah lima aku bertolak ke daerah Jimbaran, bergabung dengan office mates untuk makan malam di New Furama Resto. Ternyata aku datang duluan dan makanan masih disiapkan. Aku kembali melanjutkan membaca sambil duduk di ayunan, diiringi deburan suara deburan ombak. What a perfect me time. Setengah jam kemudian rombongan datang, waktunya main air laut sebentar karena ada yang bisa dititipi tas. Hehe.





Makanan di tepi laut identik dengan menu seafood, demikian juga dengan menu kami. Setiap orang mendapatkan satu piring lauk yang berisi aneka seafood yaitu kerang, ikan, udang, cumi. Menu kami ditemani oleh sambal tomat, sambal matah dan plecing kangkung yang disajikan terpisah. Dan tentu saja tidak ketinggalan es kelapa muda yang disajikan utuh. Malam itu aku makan lahap karena lapar siang cuma makan es krim dan ngemil. Hehehe.




Sepulang dari Jimbaran, kami mampir belanja ke Krisna. Suasana sangat ramai waktu itu. Aku hanya beli pie susu, kacang dan kopi. Mau belanja souvenir sudah mengurungkan diri karena melihat antrian di kasir yang mengular. Setelah dari Krisna, kami kembali ke hotel. Yang lain sih lanjut ngopi, sementara aku memutuskan untuk bebersih dan tidur. Capek.

(bersambung)


Comments

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...