Skip to main content

Sendiri


Dalam perjalanan hidup pastilah terjadi banyak perubahan. Dan saya juga mengalami hal itu. Yang ingin saya ceritakan di sini adalah perubahan "besar" yang saya alami setelah saya bekerja. Senin sampai Jumat, dari jam delapan sampai jam enam, saya stay di kantor. Itupun kalau tidak sedang banyak kerjaan, atau tidak sedang handle event. Kalau lagi ada event, paling cepat saya pulang jam sebelasa malam. Bahkan pernah juga lewat tengah malam. Setelah seharian berkutat dengan aktivitas kantor yang cukup memeras tenaga dan pikiran, praktis keinginan saya setelah cabut adalah istirahat. Dan tidur malam pun kadang - kadang terasa tak cukup untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. Tak jarang keesokan harinya saya bangun dengan capek yang masih terasa.

Yang saya ceritakan di atas baru salah satu dari sekian banyak hal yang menuntut saya untuk meluangkan waktu. Selain untuk kerja, saya juga harus meluangkan waktu saya untuk keluarga, kekasih dan teman - teman. Saya harus pintar membagi waktu, demi kelangsungan dan keseimbangan dalam menjalin hubungan dengan mereka yang ada dalam kehidupan saya. Meski saya kadang - kadang kewalahan untuk membaginya.

Jujur, tak jarang, demi kepentingan mereka, kepentingan pribadi saya jadi terabaikan. Waktu untuk diri sendiri, benar - benar sendiri atau sekedar menyenangkan diri, jadi tersita untuk kepentingan mereka. Kadang - kadang saya sedikit terpaksa. Saya hanya berusaha untuk menyenangkan mereka. Meski saya kadang tak menikmati apa yang saya lakukan.

Dan saat ini saya bosan dengan kepura - puraan itu. Saya merindukan momen pribadi saya yang telah lama tak sempat saya ulang. Berdiam di kamar, mendengarkan musik, ngegame, membaca, luluran, maskeran, ngemil, tidur. Sendirian, tanpa ada gangguan. Tak ada yang mengajak pergi. Tak ada yang protes. Dan tidak ada yang mengganggu. Saya merindukan hal itu, sangat merindukan.

Saya tak pernah bisa bila harus sendiri, tapi kali ini saya perlu waktu untuk sendiri. Hibernasi, menyenangkan dan memanjakan diri saya sendiri. Dan minggu ini saya ingin melakukannya. Saya ingin mempersembahkan waktu saya untuk diri saya sendiri. Tanpa harus berbagi, dengan siapapun itu.

Comments

Anonymous said…
isi yag serius dan bagus! buat penghayatan kita bersama. .

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...

Aku dan Freezer = Pembuktian :)

Suka yang aneh - aneh. Doyan belanja. Boros. Keras kepala. Pemimpi. Itulah komentar orang - orang sekitar pas tahu aku berencana beli freezer baru karena freezer yang lama udah nggak muat buat ASIP. Sempat stress juga karena omongan tersebut. Tapi mereka kan nggak pernah berada di posisiku. Mereka nggak pernah pompa ASI kayak aku. Sempet kendur juga ketika disodori pertanyaan "emang bakal penuh?", "kalau udah nggak dipakai mau diapakan?". Hmm... Akhirnya aku tetap pada keputusanku, beli freezer baru. I don't care with all they said any longer. Modal utamaku cuma bismillah. Dan ketika freezer itu datang, apa yang terjadi? Aku menangis haru saat tahu freezer itu akhirnya penuh, bahkan nggak muat untuk ASIP yang ada setelah botol - botol yang berceceran (baca: dititipkan di mana - mana) dikumpulkan dan dipindahkan ke situ. Alhamdulillah wa syukurillah, aku berhasil membuktikan bahwa freezer ini emang worth to buy . Aku membuktikan kalau aku bisa ...