Skip to main content

Tentang Pre Wedding

Foto - foto pre wedding, sebagai ilustrasi


Sapa yang nggak kenal dengan istilah pre wedding? Kayaknya hampir semua orang sudah familiar dengan kosakata dan budaya yang akhir - akhir ini lagi populer di masyarakat kita. Istilah pre wedding ini umumnya diartikan photo session yang dilakukan sebelum pernikahan. Hasilnya biasanya dipajang di undangan, kertas ucapan sovenir dan pada saat resepsi. 

Meskipun lagi populer, aku dan yangkuw justru memutuskan untuk tidak melakukannya. Banyak teman dan saudara menanyakan alasannya, menyayangkan bahkan mencibir keputusan kami, tapi aku sih nggak peduli. Mengutip bahasa anak muda yang sering nongol di televisi, "suka - suka gue kali, kawinan gue, duit - duit gue. Kenapa rese mulu??", hahaha. Okay, akan aku jelaskan beberapa alasan yang melatarinya, antara lain:

1. Bukan model.  
Aku sadar diri kalau aku bukan model yang suka bergaya di depan kamera, meski adakalanya aku suka narsis foto - foto nggak jelas. Aku tidak cukup fotogenik untuk bisa bergaya dan berekspresi dengan bagus di depan kamera. Aku dulu udah pernah photo session dengan fotografernya adalah seorang teman. Hasil jepretannya bagus, tapi hasil ekspresi wajahku bisa dibilang nggak terlalu bagus. Begitu juga sama si yangkuw. Susah sekali mendapatkan ekspresi dari orang yang pendiam dan introvert macam dia. Nah, daripada capek berjuang berjam - jam hanya untuk mendapatkan ekspresi yang bagus, tapi belum tentu juga ada yang bagus, mending nggak usah aja deh. 

2. Penghematan. 
Kebanyakan pre wedding menonjolkan keakbran dan kemesraan diantara kedua calon mempelai. Padahal kemesraan yang sebenarnya tidak bisa hanya dilihat dari selembar atau beberapa lembar foto. Sayang aja rasanya mengeluarkan sejumlah uang buat melakukan photo session yang hasilnya akan dijadikan pajangan "kebanggaan" cuma dalam satu hari. Apalagi kalau diitung - itung budget untuk pre wedding bisa dipakai  untuk bulan madu. Dan aku memilih untuk mengalokasikannya buat bulan madu, jalan - jalan berdua mengunjungi tempat - tempat wisata yang nyaman dan romantis. Syukur - syukur kalau bisa mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi seperti yang menjadi salah satu wish list-ku tahun ini :)

Si yangkuw sebenarnya mau - mau aja bayarin buat photo session macam gini, cuma aku yang menolak karena alasan yang kedua. Dia pun termakan bujuk rayuku, hihihi. Setelah semua beres, dan masih ada duit yang "tersisa", barulah kami membicarakan topik ini lagi. Kali ini ganti si yangkuw yang membujuk - bujuk. Skornya 1-1, hahaha. Setelah ngobrol panjang, sampailah kami pada keputusan untuk memajang foto kami di resepsi nanti. Tapi, bukan dengan jalan menyewa jasa studio atau fotografer. Kami memutuskan untuk mencetak salah satu koleksi foto kami. Sengaja cuma mencetak satu, karena aku pengen cetak ukuran besar foto - foto kami di berbagai moment yang belum terjadi, misalnya saat pernikahan dan bulan madu nanti. *teteeeep ya, bulan madu yang dibahas terus, hahaha*

Setelah berdiskusi dan sedikit berdebat tentang foto mana yang akan dicetak, akhirnya diputuskanlah foto narsis mana yang keluar jadi juara, menjadi pajangan di hari H. Foto tersebut tidak akan ada di undangan, karena undangan sudah selesai dicetak. Seperti di postinganku Survey Undangan, aku sudah menjelaskan bahwa tidak ada sehelai fotopun yang akan nengkri di undangan kami, alasannya adalah kami tidak mau apabila nantinya foto kami akhirnya berujung di tempat sampah, ketumpukan dengan berbagai macam sampah setelah undangan dibuang. Tragis aja rasanya. 

Kamipun membawa file itu di salah satu studio foto dekat SMA kompleks. Kami meminta CS-nya untuk mengedit foto tersebut, biar lebih kece gitu maksudnya, hehehe. Kami juga membeli pigura di sana. Foto dan piguranya jadi seminggu kemudian, yang bikin lama adalah pesen pigura. It takes five days to make it. Tapi, untuk hasil editan bisa dilihat dua hari setelahnya. Untuk biaya pigura minimalis ukuran 16 R dan cetak foto ukuran 16 R nggak sampai lima ratus ribu. Penghematan itu benar - benar nyata sodara - sodara, senang sekali rasanya. *nari salsa*

Ngomong - ngomong soal pigura, ada cerita aneh bin ajaib. Di label tertera harga X, ternyata di nota tertera harga Y. Sebagai konsumen yang cerdas dan cerewet lebih tepatnya, aku pun langsung komplain dengan semangat empat lima "Mbak, kan dilabel harganya X, kok jadinya Y?". Mbaknya menjawab "iya mbak, soalnya harga di label belum termasuk kaca, cuma pigura aja". Spontan aku menjawab "seumur - umur baru kali ini nemu fakta bahwa pigura dan kaca dijual terpisah", "kayak barbie sama bajunya aja", timpal si yangkuw. Meski sempet ngrasa bete dan tertipu, akhirnya aku mengiyakan saja. Mungkin karena bukan aku sih yang bayar, hahaha.

Comments

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...