Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiksi

Mudik Tahun Ini

gambar diambil dari Google Pulang kampung seharusnya menjadi moment yang menyenangkan, berkumpul dengan keluarga dan orang-orang tercinta. Tapi, nyatanya mudik tahun ini justru memperdalam luka. Aku pulang ke kampung halaman dengan pemandangan yang menyedihkan, dipaksa menerima kenyataan bahwa Laras, kekasihku, dijodohan dengan pria pilihan orangtuanya yang konon lebih tampan dan tentu saja mapan. Aku tahu masalah keuangan tak bisa disepelekan dalam pernikahan. Orang emang nggak akan hidup kalau cuma cinta yang diandalkan. Cinta nggak bisa buat belanja bulanan kan? Aku emang bukan orang dari keluarga berada yang punya duit berceceran di mana - mana, tapi setidaknya aku sudah berusaha semampuku untuk membuktikan keseriusanku pada orangtuanya, bahwa aku mau dan bisa bekerja keras untuk menafkahi anaknya kelak. Tapi toh, apa yang saat ini aku dapatkan tak jua membuat mereka percaya bahwa anaknya tidak akan kekurangan ketika menikah denganku nanti. Upaya lobiku dan lobi Lar...

Seberkas Cahaya

"Nggak terasa ya Ra, Dania sudah pergi tiga tahun.  Many things have changed, like a lot. And everything would never be the same again.  " Ari, menghembuskan nafasnya berat. Ada bening mengaliri pipinya, yang segera dihapusnya. Aku memeluknya erat. Aku tahu bagaimana perasaan Ari, saudara kembarku. Istrinya meninggal selagi Arman, anaknya, masih bayi. Pendarahan hebat, membuat nyawa Dania tak tertolong. Aku masih ingat bagaimana kehamilan Dania memang sangat berat. Kelainan jantung bawaan membuat Dania harus bedrest hampir di sepanjang kehamilannya. Bisa mempertahankan janinnya sampai melahirkan adalah anugrah tak terkira buat keluarga. Namun, kepergian Dania tetaplah memberi pukulan yang hebat buat Ari. Ari laki-laki yang tangguh. Meski hatinya runtuh dia tak mau menampakkan kesedihan pada orang lain. Ikatan batin kami sebagai saudara kembarlah yang akhirnya menguak cerita duka yang dipendamnya.  Kebetulan, aku melahirkan tiga bulan setelah kelahiran Arman. ...

Ketika Tangan Kita Bergenggaman

Hei kamu. Akhirnya kita bertemu. Sebenarnya ini bukan yang pertama. Tapi ini yang paling istimewa. Karena akhirnya aku berhasil jalan berdua dengan kamu untuk pertama kalinya. Sumpah, ini rasanya seperti mimpi. Meskipun memang sudah lama aku menantikan semua ini. Jangan tanya bagaimana degup jantungku berpacu ketika aku bisa duduk dalam jarak yang begitu dekat  denganmu. Degupnya berlipat dalam hitungan tak menentu. Dalam mobil yang kamu kemudikan, saat jarak tubuh kita tak lebih dari sedepa, aku bisa mencium aroma parfummu. Aroma maskulin yang ingin kuhirup lama untuk memenuhi rongga dadaku. Lima belas menit kemudian, kita duduk berhadapan di sebuah restoran kenamaan. Ah, aku sejujurnya tak peduli soal makanan, itu sudah jadi prioritas kesekian. Yang paling penting adalah aku bisa menikmati senyummu sepuasku, tanpa ada yang mengganggu. Suara lembutmu bergaung manis di telingaku. Ibarat nyanyian merdu yang ingin kudengar sepanjang waktu.  Dunia terl...

Me and Mr. Right

Mereka seringkali hanya melihat apa yang aku punya. Rumah, mobil, dan karier cemerlang. Mereka bilang aku sudah punya segala yang mereka impikan di saat usiaku masih muda. Tapi mereka tak pernah tahu apa yang sebenarnya aku rasa. Mereka tak pernah tahu bagaimana aku sebenarnya juga ingin seperti mereka. Punya keluarga seutuhnya. Mimpiku untuk membangun keluarga sebenarnya sudah separuh jalan. Aku menikah dengan seseorang yang amat aku cinta. Laki - laki sederhana nan bijaksana. Kami sempat merayakan euforia ketika aku dinyatakan hamil tiga bulan setelah kami menikah. Aku masih ingat bagaimana suamiku amat sangat mencurahkan perhatian padaku dan pada calon buah hati kami. Namun, kegembiraan kami ternyata harus berakhir. Suamiku meninggal karena kecelakaan. Mimpiku untuk membesarkan buah hati bersama pupus sudah. Dia bahkan belum pernah melihat anaknya lahir. Sekarang aku jadi single parent. It's never easy. Bukan karena aku tidak bersyukur, bukan. Selalu ada alasan untuk be...

Dawai Cinta Berlagu: Terlalu

Happy Birthday Elma, my special one We will always look at the same moon even when we're apart Take care Prasetya Elma mengernyitkan dahi saat membaca ucapan dari Pras, lelaki yang sudah setahun dikenalnya dari sahabatnya Ferdi. Elma membacanya berkali - kali, tapi tak paham maksudnya. "Apakah Pras merasakan getaran yang yang aku rasakan?" batinnya. Mungkin iya, karena selama ini Pras selalu perhatian kepadanya, selalu ada kapanpun saat membutuhkan. Tapi... enam bulan sejak intensitas hubungan mereka meningkat, tak ada tanda - tanda hubungan mereka meningkat ke arah percintaan. Pernah terlintas di pikiran Elma untuk nembak duluan, tapi dia masih ragu. Elma kembali menatap kartu ucapan itu. Elma mendapatkan kado buku dari Pras, Akar buah karya Dee yang sudah lama dinanti terbitnya, kini di tangan. Lengkap tanda tangan Dee di sana, entah bagaimana Pras mendapatkannya. Elma meraih telepon, tujuannya satu. Menelepon Pras. Memperjelas arti tulisan dalam kartu u...

Jalan Surga

"Fitri..." "Ya mas", jawabku sambil mengambilkan nasi untuk mas Ahmad, suamiku. "Aku ingin menikah lagi" Aku terdiam, menghentikan penyajian makan untuknya. Aku menatapnya lekat. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" "Aku tidak setuju" "Kenapa?" "Aku kan sudah bilang dari awal kita menikah, aku tidak mau dipoligami, kita sudah bikin perjanjian pra nikah, dan mas sudah menyetujuinya. Kenapa kini berubah?" "Fitri... kamu harus tahu, bahwasanya poligami tidak dilarang dalam Islam. Aku yakin kamu paham soal ini, kamu kan sudah belajar agama lama di pondok" "Aku tahu, aku nggak melarang siapapun untuk poligami, itu hak pribadi" "Lha terus, kenapa kamu melarang aku untuk menikah lagi?" "Karena mas suamiku, mas sudah menyanggupi untuk tidak poligami ketika akan menikahiku" "Tapi itu kan dulu, sekarang beda Fit.." "Jadi ceritanya mas mau ingkar janji?" ...

Selamat Beristirahat Sayang

Plaaakk.. Tamparan itu kembali mendarat di mukaku. Entah untuk kesekian kalinya. Aku sudah tidak bisa menghitungnya. "Masak gini aja nggak becus, rasanya pedas sekali. Kamu sengaja ya mau bikin perutku sakit trus masuk rumah sakit trus mati??". Plaaakkk, tamparan kedua tahu - tahu sudah mendarat di pipiku tanpa aku sadari. Lelaki yang katanya suamiku itu pergi tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri. Aih, apa itu membela diri? Tak pernah ada kata - kata itu dalam kamus hidupku. Yang aku tahu, seorang istri harus nrimo, nggak boleh melawan, dengan berbagai alasan. Sejak menikah setahun yang lalu, aku diputuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Aku keluar dari kantor tempatku bekerja. Praktis, itu memangkas habis koneksiku dengan dunia di luar sana, paling banter aku ke pasar di ujung kompleks. Bayangan kehidupan pernikahan yang membahagiakan ternyata hanya berumur seumur kesegaran bunga setelah dipetik dari pohonnya. Aku lebih pantas disebut sebagai pembantu, daripada d...