Tuesday, December 12, 2017

Hello Baby



Alhamdulillah, wa masyaallah.

Welcoming the second Adira in our family. Stay healthy and happy inside my belly dear. Love you to the infinity and beyond.

"Rabbii habli miladunka dzurriyyatan thoyyibah. Innaka sammi’uddu’aa". (QS. Ali Imran 38)

"Ya Allah berikanlah kepadaku dari sisiMu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau adalah pendengar permohonan (doa)."

Sunday, October 22, 2017

[Review] Staycation di Best Western Papilio Hotel



Dua bulan ini tidaklah buatku, mulai dari event dan perjalanan dinas beruntun, pindah bagian di kantor dan evaluasi tahunan tumbangnya Bintang. I, and my husband, need a vacation then. Tapi, kalau keluar kota kudu cuti dan lebih capek, selain itu dana liburannya masih harus diisi lagi pasca pergi ke KL kemarin, hehe. Lalu ke liburan ke mana donk enaknya? Kami memutuskan untuk staycation saja. Staycation adalah istilah untuk liburan tanpa keluar kota. Kami memilih untuk staycation di hotel. Alasannya kami hampir tak pernah mengeksplor hotel yang kami inapi selama ini. Hotel seringkali hanyalah tempat untuk tidur semata. Aku misalnya, lumayan sering menginap di hotel, tapi karena dalam rangka perjalanan dinas aku hanya bisa menikmati kamar pada saat tidur dan mandi semata, tidak pernah berleha-leha. Pagi-pagi harus ke acara, dan baru kembali saat malam telah tiba, tak jarang saat malam sudah larut. Kupikir, tentu asyik ya bisa santai-santai gegoleran, entah di kamar, taman atau kolam renang tanpa ada panggilan kerjaan, tanpa ada tuntutan rundown.

Setelah diputuskan kami akan staycation, aku pun mencari referensi hotel. Syarat utamanya adalah ada kolam renang dengan budget maksimal 500 ribu. Sederet hotel masuk dalam list yaitu The Alana, Best Western Papilio dan Hotel Gunawangsa Manyar. Namun kami putuskan untuk memilih Best Western Papilio dengan pertimbangan kolam renangnya punya pemandangan kota 180 derajat, dalam bangunan yg sama terdapat foodcourt untuk memudahkan kami mencari makan malam.

Best Western Papilio Hotel terletak di Jl. Ahmad Yani, satu kompleks dengan Apartemen Tamansari Papilio. Untuk masuk ke hotel, lihat saja signage yang ada. Di area lobi ada meja welcome drink yang saat itu berisi jus mangga dan infused water. Welcome drink-nya self service ya. Di sudut lain ada dua PC yang bisa digunakan untuk mengakses internet cuma-cuma.





Kami datang jam 13.30, proses check in sangat cepat, tidak sampai 5 menit. Meski belum jam check in, berhubung kamar sudah ada yg ready kami dipersilahkan masuk kamar. Kamar yang kami pesan adalah kamar superior twin bed yang terletak di lantai 17. Ketika membuka pintu, di sebelah kiri ada lemari, tempat penyimpanan barang dan area membuat teh kopi plus kulkas mini. Selain itu, terdapat  meja kerja, jam meja dan tea chair. Yang aku suka bantalnya double, jadi kalau tidur yang satu bisa aku fungsikan sebagai guling.




Interiornya modern elegan karena sentuhan ornamen kayu di beberapa spot. Dari kamar kami bisa melihat pemandangan kota dan kolam renang sekaligus. Bintang paling suka duduk di dekat jendela, mengamati lalu lintas yang ada. Apalagi kalau malam lampu berkerlipan.


Untuk kamar mandi standar ya, ada shower, toilet, wastafel, hairdryer dan amenities. Amenitiesnya tampil minimalis, wanginya aku gak begitu suka.




Setelah merem sekitar sejam, kami ke kolam renang. Bantimurung sky pool and cafe terletak di lantai 8. Ada dua kolam persegi untuk anak dan dewasa. Yang anak-anak kedalamannya 50cm, sedangkan untuk dewasa kedalamannya 115-150cm. Asyik banget renang dengan pemandangan kota. Meski bukan infinity pool but it's wort it. Petugas hotel juga ramah, begitu datang kami ditanyai dari kamar berapa dan butuh handuk berapa. Sementara Bintang dan suami berenang, aku memilih untuk membaca.




Sejam kemudian, kami menyudahi sesi berenangnya. Setelah berbilas, kami makan di A&W. Perut kenyang, hati tenang lalu balik ke kamar. Malamnya santai-santai, ngobrol sambil nonton TV, baca buku, main busy book dan mendongeng. Enak banget ya ternyata leha-leha gini, having break from daily routine. Besok-besok pengen staycation lagi, nyobain hotel lainnya. Hahaha. Untuk wifi sayangnya kurang oke, whatsapp lancar tapi buat buka IG lama banget ngeload gambarnya, buffering untuk lihat story. Trus kalau malam ternyata baru kerasa berisik karena suara mesin AC, ada suara mendengung gitu. Kalau traffic gak kedengeran kecuali waktu ada kereta lewat.

Bintang tidurnya nyenyak banget. Jam 7 baru bangun, mandi lalu sarapan. Sarapannya di Miraposa Restaurant di lantai 7. Variasi makanan yang disajikan banyak. Ada buffet isi nasi, mie, sosis, red beans, potato wedges dan mendoan. Lalu ada stall sup ayam, soto ayam, bubur ayam, nasi campur, egg corner, pancake dan buah (nanas, melon, semangka, pepaya, pisang, jeruk, salak), aneka cake dan roti, salad, sereal, jus (mangga, kiwi, sirsat, anggur) jamu dan makanan rebus (kacang, pisang, ubi).






Bintang sarapan mie, sosis, tempe mendoan dan telur rebus. Mienya enak, tapi mendoannya plain. Menuku adalah nasi campur (oseng tahu kacang panjang, telor bali, terong balado), soto ayam, bread pudding dan kunyit asam. Suami pilih nasi campur, pancake, buah dan jus kiwi. Sarapan yang memuaskan. Cuma restorannya ini rasanya sumpek karena banyak pilar besar di dalamnya, lalu jendelanya ditutup untuk menghindari sinar matahari yang menyilaukan. Rasanya terkurung gitu.

Jam 11.30 kami check out. Overall kami puas menginap di sini. Kapan-kapan pengen staycation lagi.

Friday, October 13, 2017

Pindang Iga Khas Palembang


Setiap kali pulang dari satu perjalanan ke tempat baru, kalau nemu kuliner yang cocok selama di sana, aku akan mencoba memasaknya di rumah. Salah satu menu yang aku suka selama di Palembang adalah Pindang Iga Sapi. Berbeda dengan Asem-Asem Daging/Iga di Jawa Timur yang menggunakan kecap, Pindang Iga ini menggunakan ulegan cabai merah untuk warnanya. Rasanya segar, asam dan pedas. Aku memasaknya di Happy Call supaya daging lebih cepat empuk. Sejak punya Happy Call aku suka memakainya karena sangat membantu. Bisa juga untuk bikin roti bakar, bisa melelehkan keju mozarella tanpa harus repot mengeluarkan oven. Resep yang aku pakai adalah Pindang Tulang Khas Palembang dari MonicSimplyKitchen, dengan sedikit modifikasi yaitu penambahan cabai merah dalam bumbu ulegnya.


Happy Cooking, Happy Eating!!

Perjalanan Ke Palembang (Bagian 1)


Ini adalah perjalanan pertamaku ke Pulau Sumatera. Excited tentu saja. Perjalanan dari Surabaya ke Palembang ditempuh selama 1 jam 45 menit. Ada dua maskapai yang melayani direct flight SUB-PLM, Lion dan Citilink. Aku memilih Citilink dengan pertimbangan Lion sering delay. Harga tiket PP 1.2 juta, worth it. Beberapa saat sebelum mendarat, hujan datang menyapa. Rupanya di Sumatera sudah mulai musim hujan. Namun saat landing, cuaca cerah berawan.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tidak terlalu besar. Dari arrival hall terlihat proyek pembangunan LRT Palembang. Ya, Palembang sedang berbenah menyambut perhelatan ASEAN Games 2018. Dari Bandara ke Hotel kami naik mobil sewaan, jaraknya sekitar 20 KM dengan waktu tempuh sekitar satu jam.


Hotel Aryaduta Palembang
Kami menginap di sini selama dua malam. Alasannya adalah hotel ini menjadi venue acara kami. Jadi biar praktis, kalau butuh istirahat dan sholat selama acara mudah. Hotel ini lokasinya strategis, dekat dengan pusat kota. Letaknya satu kompleks dengan Palembang Square Mall. Bangunan hotel sudah lama namun bersih dan terawat. Lobby terletak di ground floor. Pada saat check in agak lama karena tidak bisa group check in diwakili oleh seorang delegasi. Hotel meminta ID dari setiap penghuni kamar. Sembari aku mengurus check in, Saras mengurus registrasi simposium. Setelah semua beres, kami ke kamar untuk mandi dan menyimpan barang. Untuk naik lift, tidak perlu menempelkan kunci kamar ke alat yang ada di lift, karena alatnya tidak ada. Entah rusak atau apa. Sayang sekali ya kalau hotel bintang lima begini.



Kamar yang aku pesan adalah superior twin bed. Tampilan kamar seluas 23 m2 ini menurutku ala kadarnya. Kamar dilengkapi tempat tidur, televisi, pemanas air untuk kopi/teh, kulkas, bangku untuk koper dan lemari baju yang sangat kecil. Aku sangat menyayangkan jika hotel berbintang empat atau lima lantainya tanpa karpet dan tanpa tea chair and table di kamar.





Untuk kamar mandi, standar ya, dengan shower tapi dilengkapi hair dryer. Aku suka amenitiesnya, edisi Sebastian Gunawan yang wanginya enak dan tampil cantik.


Dari kamar aku bisa melihat pemandangan kota. Tepat di depan kamar ada kolam renang berstandar internasional, ukuran olympic size. Aku bisa tahu dari tulisan Sea Games Indonesia. Kolam renangnya selalu rame, pagi, siang, sore selalu ada yang memakai.







Sarapan pagi di resto di lantai 1. Beberapa makanan yang sempat aku coba adalah Salad, Omelet, Nasi Uduk, Pempek Kulit, Mie Ayam, Pompom Potato, dan Laksan. Pempek kulitnya enak, crunchy tapi tetap empuk digigit, terasa royal ikannya, namun tidak amis. Lalu pertama kali aku mencoba Laksan, fish cake yang menggunakan adonan pempek dibentuk kotak, dimasak dalam kuah santan pedas dan ditaburi bawang goreng. Lembut dan menghangatkan. Pilihan minumannya banyak, teh, kopi, infused water dan jamu.

Lalu selama acara berlangsung aku sempat mencoba mantau dan Nasi Minyak Khas Palembang. Aku pertama kali nyoba nasi minyak, modelnya sih seperti nasi lemak, bumbunya tidak setajam nasi dari timur tengah. Rasanya enak, apalagi ditemani sama Ikan Saluang Buta yang digoreng crispy. Secara keseluruhan masakan di sini enak dan recommended.



Aku juga sempat ngegym di sini. Cuma treadmill-an saja sih. Ruang gym terletak bersebelahan dengan kolam renang. Kedua Fasilitas ini sepi pengunjung saat aku ke sana, mungkin karena masih jam setengah enam pagi. Oiya, untuk wifi, kecepatannya baik dan stabil. Baik di kamar, hall maupun di resto sama baiknya.


Pempek Candy
Ketika googling tentang rekomendasi pempek, muncul sederet merek pempek yang semuanya mengklaim dirinya enak, ya iya lah ya namanya jualan. Sebagian rombongan pengen pempek, sebagian lain pengen mie celor. Lalu atas rekomendasi driver kami, pergilah kami ke Pempek Candy yang punya banyak pilihan menu, tidak melulu pempek. Lokasinya tidak jauh dari hotel kami, sekitar 10 menit berkendara dari hotel. Ruangan di Pempek Candy bersih dan rapi, sempat mbatin "jangan-jangan harganya mahal nih", ternyata tidak juga, harganya standar.



Selain pempek, ada otak-otak, tekwan dan Mie Celor, sisanya aku lupa. Hehehe. Aku memilih Mie Celor karena belum pernah nyoba sebelumnya. Mie Celor adalah mie kuah khas Palembang. Kuahnya creamy karena berasal dari santan. Mie bulat besar seperti udon hadir bersama udang dan telur rebus ditaburi bawang goreng. Harusnya ditaburi seledri juga, tapi seperti biasa aku memilih untuk skip that. Rasa gurih dalam kuah juga didapatkan dari kaldu udang dan/atau ebi. Kaya bumbu tapi nggak bikin eneg, so yummy!


Meskipun tidak pesan pempek, waitress akan menyajikan aneka pempek ukuran kecil dalam satu piring. Ada pempek lenjer, adaan, telor, kulit dan bakar. Jika berminat, Anda tidak harus menghabiskan semuanya, yang dihitung hanya per biji yang Anda makan. Pempeknya lembut, ikannya terasa tapi nggak amis sama sekali. Kuahnya sudah pedas tanpa perlu menambahkan sambal. Pempek Candy juga menyediakan aneka oleh-oleh khas Palembang. Ada kerupuk, kopi, tekwan dan pempek. Aku beli tekwan kering.


Jembatan Ampera
Selesai makan di Pempek Candy, kami menuju daerah Benteng Kuto Besak untuk menikmati pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Jembatan Ampera terletak di tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Nama Ampera diambil dari kalimat Amanat Penderitaan Rakyat. Jembatan yang diresmikan di tahun 1965 ini mempunyai panjang 1.117 m dan lebar 22 m.



Bersambung ......

Thursday, October 12, 2017

Farewell From KSDN

Untuk alumni KSDN lain di manapun kalian berada.

Tujuh tahun dua bulan, perjalanan saya dengan KSDN menemui episode terakhirnya. Terhitung 1 Oktober 2017, saya dipindahkan ke Lembaga Pengembangan Bisnis dan Inkubasi. Mohon doanya semoga amanah di tempat menimba ilmu dan pengalaman yang baru.

Sesungguhnya banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil dari segala drama di balik map biru MoU. Mulai dari MoU dari langit, ketik ulang draft, tamu dadakan, ceremony sejam lagi, dsb. Kadang ngeselin, pernah beberapa kali bikin nangis, tapi sekarang bisa mengenangnya sambil tertawa “I’ve been there, done that”. Pengalaman bertemu dengan orang-orang baru sangatlah menyenangkan dan berharga untuk saya.

Terima kasih banyak untuk semua orang yang telah bekerjasama, membimbing, membantu, mengingatkan, membackup dan menjadi sahabat melewati segala dinamika yang ada. Tanpa kalian, aku bukanlah siapa-siapa. Working with you has been one of great joys of my life. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. 

Kindly keep in touch through my e-mail or personal mobile number. I wish you all the best for your future endeavors and hope that our path will cross again soon. Thank you


Regards,
Ratna Wahyu

Saturday, October 07, 2017

Sego Babat Ngagel Jaya

Beberapa waktu yang lalu aku kulineran dengan Saras, teman kantorku. Pilihan kami jatuh pada Sego Babat Ngagel Jaya. Alasannya, dari hasil googling warung ini termasuk salah satu yang direkomendasikan para food blogger. Lalu setiap lewat selalu rame. Kalau dari arah Bilka, lurus saja ke timur. Nanti warungnya di kiri jalan, di seberang Gereja Jawi Wetan.


Warung yang buka mulai jam 18.00 ini menyajikan menu sego babat, paru, usus, ayam dan empal. Aneka lauknya disajikan di atas meja sehingga pengunjung bisa memilih dengan mudah. Satu porsi reguler (dengan satu lauk) dibandrol 17 ribu, kalau nambah lauk per satu lauk dikenai 14 ribu. Waktu itu aku memilih Sego Babat extra usus, harganya 31 ribu.




Piring pesananku datang tak lama setelah kupesan. Jerohan kaya kolestrol hadir ditemani sambal korek, mangga serut dan serundeng. Sangat menggugah selera. Dari suapan pertama langsung tahu kalau porsi yang agak banyak ini bakal aku habisi begitu saja. Maklum waktu itu lagi lapar dan PMS *pembenaran*. Baik babat dan ususnya sangat empuk, bumbunya meresap sempurna. Gurihnya terasa. Sambal koreknya pedes nampol, bikin makan nggak berhenti hingga suapan terakhir.




Saran dariku, datanglah segera setelah warung buka, supaya tidak antri lama. Oiya, warung ini hanya menyediakan es teh dan es jeruk saja. Kalau mau minum jus bisa pesan di warung jus sebelahnya. Pilihlah jus buah yang kaya akan vitamib C, supaya meminimalisir lemak dan kolestrol dan masuk. Hihihi