Monday, July 17, 2017

Cerita Tentang Pesawat Terbang


To invent an airplane is nothing. To build one is something. But to fly is everything. 
(Otto Lilienthal)

Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan.

Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan. 

Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat".

"Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu.

Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk dalam rencana di keluargaku. Kenapa? Karena rumahku jauh dari bandara, kalau mau mengunjungi saudara yang tinggal di kota yang berjauhan, orangtua lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum seperti bus atau kereta api, lebih praktis. Tapi, mimpi naik pesawat tetap aku genggam erat. Aku percaya suatu saat Allah akan mengabulkan doaku.

Lima belas tahun kemudian, tepatnya di tahun 2008, akhirnya mimpiku untuk bisa naik pesawat terkabul. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana momen bingung, takut dan excited waktu itu. Aku pertama kali naik pesawat seorang diri, dari Jakarta ke Surabaya, setelah mengikuti interview kerja di salah satu multi national company. Tiketku ditanggung oleh perusahaan itu. Pesawat yang pertama kali aku naiki adalah Batavia Air, yang saat ini sudah tinggal nama. Di atas pesawat aku mengenang kembali bagaimana aku memimpikan naik pesawat sejak kecil, lalu kini bisa menjadi nyata. Diam-diam aku menangis, bersyukur Allah mengabulkan doaku, meski setelah bertahun-tahun kemudian.

Aku kemudian menyukai kegiatan naik pesawat. I'm so excited to visit new places. Selalu ada banyak cerita di balik sebuah perjalanan, yang mayoritas adalah tempat atau pengalaman baru buatku. Maka, saat ini aku selalu antusias setiap kali ada penugasan. Ke mana surat tugas berbicara hayuk saja.
***
Bintang, anak semata wayangku rupanya persis seperti aku. Obsesinya naik pesawat terbang. Dia rajin menabung demi bisa naik pesawat terbang. Setiap kali mendapatkan angpau dari kakek nenek atau saudara, dia akan memberikannya ke aku sambil bilang "nabung, mau naik pesawat". Ini terjadi setelah dia merasakan kemewahan naik pesawat di usia 1,5 tahun, waktu ke Lombok. 

Dua tahun kemudian, dia naik pesawat lagi ke Jakarta waktu menghadiri pernikahan adikku. Saking excitednya naik pesawat, dia berjuang keras menahan kantuk. Demi menyaksikan pesawatnya lepas landas dan mengudara. Pada akhirnya dia ketiduran ketika pesawatnya sudah berada di keseimbangan. Berbeda denganku, Bintang tidak perlu menunggu belasan tahun untuk bisa naik pesawat (lagi). Alhamdulillah banget, dia punya kesempatan yang lebih baik daripada ibunya. 

Meski belum sering dilakukan, tapi setidaknya dia sudah beberapa kali merasakan naik pesawat terbang. Tahun ini dia senang sekali bisa naik pesawat terbang lagi. Kami pergi ke Cilegon menengok adikku yang sekarang tinggal di sana. Untuk menggenapi pengalamannya naik pesawat, waktu itu aku memilihkan pesawat besar untuk penerbangan pulang. Senang sekali dia mendapati pesawatnya besar, Airbus. Di dalam pesawat dia duduk manis, mengamati pemandangan dari balik jendela sambil menikmati cemilan yang diberikan pihak maskapai.

Sebelumnya, ketika masih di waiting room, dia asyik mengamati puluhan pesawat landing dan take off, lalu bersorak heboh ketika melihat satu pesawat double deck milik Etihad. Dia bilang "Aku mau naik itu Buk". Aku katakan padanya "Insyaallah, suatu saat nanti Bintang bisa naik pesawat segedhe itu, ke tempat yang lebih jauh dari yang pernah Bintang datangi. Bintang rajin berdoa sama Allah ya". Dia mengangguk, sambil mengucap "aamiin".

Maka, setiap kali aku sedang dalam penerbangan, aku tak lupa berdoa supaya aku bisa terbang lagi, melihat sisi lain keindahan Illahi. Aku juga berdoa untuk Bintang, I hope he could fly higher than me, as far as possible. Aamiin. So, keep on dreaming, never stop believing!!

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenarana." (Q.S Al Baqarah: 186)

Tuesday, July 11, 2017

[Review] Royal Senyiur Hotel, Prigen

Tempo hari kantorku mengadakan raker di Royal Senyiur Hotel, Prigen, Pasuruan. Hotel bernuansa klasik ini tidak terletak di tepi jalan raya. Jadi cocok sekali bagi Anda yang mencari ketenangan. Sayangnya jalan menuju hotel tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, itupun salah satu mobil harus berhenti dulu. Waktu itu aku naik bus, bahu jalan langsung penuh deh.

Hotel ini berbintang empat dan mengusung tema boutique hotel. Lobinya luas, ada sofa, TV dan Piano. Sayangnya reception desk-nya agak nyempil, di teras. Kurang okey deh kesannya. Tapi aku suka areanya, berkontur naik turun. Jadi berasa banget kalau lagi di pegunungan, meski cuma di kaki gunung, karena udaranya sangat segar.

Kamarku terletak di lantai dua, kamar paling pojok dengan view koridor. So, jendela kamar tidak bisa kami buka dengan alasan kenyamanan. Nggak lucu kan kalau tingkah polah kami kelihatan dari luar kamar. Aku berbagi kamar dengan sis Alvin. Kamar kami tipe deluxe suite room yang sangat luas. Yes, ini luas banget untuk ukuran sebuah kamar hotel. Luasnya 50 m2, bisa banget dah dibuat main tenis meja di dalamnya.

Kamar kami dilengkapi dengan 1 ranjang king size, 1 set meja makan dengan dua buah kursi, 1 meja kerja dilengkapi dengan lampu baca, 1 set meja untuk tea time dengan dua buah kursi. Too much sitting area, jatuhnya malah tidak bisa difungsikan dengan baik. Ada juga lemari pakaian yang terletak di koridor, depan kamar mandi. Di samping almari terdapat satu meja tempat meletakkan heater, cangkir, botol air mineral, gula, kopi dan teh.





Kamar-kamar di hotel ini kami pesan dalam settingan fullboard meeting. Namun karena hotel tidak punya twin bed room, maka diberikan extra bed. Asli ini ganggu banget buatku, perbandingan antara kasur utama dan extra bed begitu kontrasnya. Malah di beberapa kamar lain, aku melihat hanya diberikan kasur tipis di atas balai-balai bambu, yang menurutku lebih cocok sebagai kasur di tempat spa ketimbang di hotel bintang empat. King bed is more than enough buat dipakai berdua, meski tidak semua orang nyaman tidur seranjang berdua, apalagi dengan orang lain yang tidak terlalu akrab. Oiya, kamar juga dilengkapi dengan kulkas dan televisi. Sayangnya televisinya masih tabung, too old




Kamar mandinya luas, kira-kira 9 m2, luasnya sama donk dengan luas kamar di rumah. Hahaha. Area bath up dan shower terpisah. Area bath up bahkan diberikan sekat kaca, bukan hanya shower curtain seperti biasa. Suka deh area shower dan bath up terpisah gini, bikin kamar mandi tetap kering. Di dalam kamar mandi ada wastafel dengan cermin besar dan dua lampu rias di kanan kiri cermin. Again, it's too much untuk ukuran dandan biasa, kecuali model princess ya. Entahlah settingan kamar di sini meski nyaman, kesannya berlebihan.





Hotel dilengkapi juga dengan kolam renang, ada dua kolam renang di sana. Satu untuk dewasa dan satu untuk anak-anak. Ada juga perosotan yang menghubungkan antara kolam anak dan kolam dewasa. Menghabiskan waktu di sekitar kolam renang juga bisa menjadi pilihan, sambil menikmati pemandangan dan udara yang segar. Anda bisa membaca atau menikmati makanan ringan.







Waktu itu aku tidak membawa baju renang. Jadi selagi yang lain berenang aku memilih untuk menghabiskan waktu di gym. Pagi itu aku treadmill-an sejauh 3 km. Lumayan banget untuk membakar keringat dan lemak, hihihi. Ruangan gymnya tidak terlalu besar, dan tidak ada petugas yang menunggui. Jadi pas awal aku bingung bagaimana mengoperasikan treadmill, aku harus celingukan dulu lalu memanggil salah satu petugas hotel yang lewat. Di samping gym ada kids corner, tapi dalam keadaan terkunci. Sepertinya harus konfirmasi terlebih dahulu sebelum menggunakannya. Di dalam kids room ada beberapa mainan anak, lumayan untuk mengusir kebosanan anak-anak.



Sehabis ngegym, terlebitlah lapar. Setelah mengeringkan keringat aku mandi, lalu makan. Waktu itu sekitar jam delapan ketika aku sampai di resto. Beberapa menu sudah tinggal sedikit, namun tidak segera diisi ulang. Jadi aku memutuskan mengambil omelet, sosis, baked beans, mie ayam bakso, roti dan jus jeruk. Tidak banyak yang bisa direview ketika sarapan, soalnya makanan yang tersedia terbatas. Males menunggu direfill karena sudah lapar.


Oiya, di bawah ini adalah menu makan siang di hari sebelumnya. Ada Nasi Uduk, Sop Sayur, Tempe mendoan, urap-urap, ayam goreng kalasan dan sambal. Rasanya enak, mengingatkanku pada masakan rumahan. Makan siang ini aku tutup dengan semangkuk es buah.



Hotel Royal Senyiur Prigen
Jl. Putuk Truno 208, Prigen, Pasuruan
Telp 0343-885113


Score:
Meals: 7
Room: 6,5
Service: 8
Facilities: 7

Friday, July 07, 2017

[Review] Warunk Upnormal Dharmahusada

Akhir-akhir ini banyak bermunculan cafe dengan olahan mie instant, salah satunya adalah Warunk Upnormal. Warunk yang berpusat di Bandung beberapa waktu lalu membuka cabangnya di Dharmahusada. Setiap lewat daerah sana selalu ramai pengunjung, akhirnya pun tergoda untuk mencoba. Ini sebenarnya review atas dua kunjungan, tapi aku jadikan satu. Makanan yang dipesan adalah Nasi Kambing Muda Cabai Hijau, Nasi Ayam Penyet Gak Nyantai Pedasnya dan Indomie Pedas Mampus. Sedangkan minumannya aku pesen Green Tea Lovers, Alpukat Kerok Green Tea dan Upnormal Java Chips Frappe.

Nasi Kambing Muda Cabai Hijau

Aku suka deh sama menu Nasi Kambing Muda Cabai Hijau ini, bumbunya meresap pas, dagingnya empuk dan tidak prengus. Irisan cabainya membangkitkan selera, apalagi untuk aku yang saat itu puasa. Tapi pedasnya biasa saja menurut ukuranku. As always, aku pesen telornya matang sempurna. 

Nasi Ayam Penyet Gak Nyantai Pedasnya

Nasi Ayam Penyet Gak Nyantai Pedasnya ini sesungguhnya bukanlah ayam penyet. Ini lebih pada ayam goreng suwir lalu ditumis sama ulekan kasar aneka cabai (hijau, merah dan rawit). Rasanya sih enak, tapi nggak pedes-pedes banget kok.

Indomie Pedas Mampus

Kalau Indomie Pedas Mampus ini pesanan suami. Indomie Goreng diberi toping telur mata sapi dan selembar smoked beef. Rasanya ya tidak nendang pedasnya.

Mie Tektek Ori
Kalau Mie Tektek Ori adalah pesanan untuk Bintang. Indomie rebus tapi pakai bumbu ala abang-abang Mie Tektek. Ada sawi, tomat dan telur kocok. Rasanya enak, aku suka bumbunya, pas. Bintang tandas semangkok ini.

Alpukat Kerok Greentea
Nah ini dia menu favoritku, Alpukat Kerok Greentea. Kerokan alpukatnya banyak, puas deh. Apalagi ada taburan gula matchanya, dan disajikan dingin. Beneran juara!!
Green Tea Lovers
Nah, sebagai penggemar berat matcha, dikunjungan berikutnya aku mencoba Green Tea Lovers ini. Sayangnya ini nggak oke terlalu menurutku. Masak ya bubble-nya nggak bulat, ngumpul nggak jelas kayak bubur. Mendingan beli green tea frappe deh kalau gini.

Upnormal Java Chips Coffee

Harga makanan dan minuman di sini berkisar 15-25 ribu. Harga yang terjangkau untuk kantong mahasiswa. That's why mereka membuka gerainya di seputaran kampus. Dinning areanya ada dua, indoor dan outdoor. Ada juga aneka permainan yang disediakan untuk membuat acara nongkrongnya makin seru misalnya Uno, Ular Tangga dan Monopoli.


Warunk Upnormal Dharmahusada
Jl. Dharmahusada No 64 Surabaya
Buka 11.00-22.00 WIB

Tuesday, July 04, 2017

Nasi Pecel Yu Gembrot dan Es Dawet Suronatan

Assalamualaikum.

Sebelumnya perkenankan aku dan keluarga mengucapkan "Selamat Idul Fitri 1438 H. Taqobbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir batin". Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun-tahun mendatang, aaminn.

Postingan pertama setelah liburan panjang adalah wisata kuliner selama kami mudik. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana aku seakan lepas kendali ketika lebaran tiba, tahun ini aku bisa mengontrol diri. Perut sudah tidak bisa jika diisi terlalu banyak, bakal berasa begah. Di antara sekian banyak menu kuliner ketika mudik, hanya ada empat yang kami buru. Yaitu: Nasi Pecel Yu Gembrot, Dawet Suronatan, Sate Gule Kambing dan Nasi Jotos. Kami memakannya di jam makan, kecuali dawet. Jadi tidak ada ceritanya frekuensi makan ditambah. Untuk cemilan pun aku atur, incip sepotong dua potong cookies saja. Dan aku hanya ngincip di tempat-tempat yang memang cookiesnya the best, heheh. Kalau di tempat lain aku lebih suka makan sesuatu yang jarang kutemui misalnya Tape Ketan Hitam dan Tumpi (Rempeyek Kacang Hijau). Alhamdulillah perjuangan menjalankan pola hidup (lebih) sehat selama setengah tahun sudah mulai terlihat hasilnya. I'm beyond happy. Hasilnya ketika balik dari liburan berat badanku stabil di angka 55. Ahaii!! Masih ada PR 3 kilo lagi nih anyway.


Nasi Pecel Yu Gembrot


I love Nasi Pecel, like a lot. Dan di antara sekian banyak warung Nasi Pecel, warung milik Yu Gembrot ini adalah favoritku. Aku paling suka Nasi Pecel dengan lauk empal atau rempelo ati goreng. Malam itu sepincuk pecel pesananku datang dengan lauk empal karena rempelo atinya sudah habis. Nasi hangat dengan porsi yang tidak terlalu banyak, ditemani sayuran (daun singkong, kacang, kecambah pendek), rempeyek kacang, kripik tempe (yang nggak ikut kefoto), kering tempe dan serundeng telah mendarat dengan selamat di perutku. Aku makan dengan tangan, sungguh nikmatnya. Yang aku suka dari Nasi Pecel di sini bumbunya enak, empalnya empuk banget, menggigitnya effortless lah. Lalu, ada kasir tersendiri, jadi tidak ada ceritanya habis pegang uang trus pegang sayuran. Lebih higienis.

Malam itu suasana warung itu sangat ramai, maklum dalam suasana lebaran di mana orang males masak dan pengennya kulineran. Pengunjung sampai diharuskan mencatat nama dan pesanannya untuk kemudian dipanggil sesuai antrian. Beruntung aku dapat tempat duduk sebelum makanan datang. Dua porsi pecel lauk empal, dua botol beras kencur dan sebungkus rempeyek kacang ditebus seharga enam puluh ribu rupiah. Agak mahal untuk ukuran di Madiun, tapi it's worth every peny. Anda bisa melihat banyak foto artis dan pejabat dipajang di tembok warung, salah satu tanda jika racikan pecel di sini memang spesial. Tapi buatku yang lebih bisa dijadikan acuan adalah banyaknya pengunjung lokal yang datang, karena mereka adalah pelanggan sehari-harinya.


Es Dawet Suronatan


Legenda dawet di Madiun ya di sini tempatnya. Sejak aku kecil sudah ada, nggak tahu kapan pastinya. Yang aku ingat ketika kuliah, harga semangkok dawetnya tiga ribu rupiah. Hingga kini semangkoknya berharga delapan ribu rupiah. Dawet di sini berisikan ketan hitam, tape singkong, bubur sumsum dan cendol. Disiram dengan sirup gula merah dan santan. Cocok banget dimakan ketika cuaca panas. Rasa dawet di sini masih tetap seenak dan seotentik dulu. Seporsi cukup buatku. Tapi kalau mau lebih kenyang bisa nambah lagi.



Nasi Pecel Yu Gembrot
Jl. Imam Bonjol (Kompleks Pasar Besi) Madiun
Buka 07.00 - 21.00 WIB

Depot Suronatan
Jl. Merbabu No 10 Madiun
Buka jam 07.00 -  16.00 WIB

Wednesday, June 14, 2017

Berkutat dengan Keuangan


Halo... Sudah lama ya nggak posting di blog. Sebenarnya ada beberapa postingan yang sudah masuk daftar, namun kerjaan kantor lagi banyak-banyaknya jadi baru sekarang bisa come back. Hehe. Oiya, bagaimana puasanya teman-teman? Semoga diberikan kelancaran dan ibadahnya diterima oleh Allah. Aamiin

Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menuliskan kesibukan baruku sejak aku moved out dari IOP. Mulai pertengahan tahun lalu, aku diberi amanah tambahan sebagai PUMK (Pemegang Uang Modal Kerja) atau Bendahara di unitku. Selama setengah tahun aku berguru ke Mas Bagus, Bendahara Umum Universitas, di mana anggaran unitku dititipkan. Dealing about finance makes me learn a lot. Bagaimana menyusun anggaran, mengatur cash flow, mencairkan cek, membayar aneka tagihan, mengurus perjalanan dinas, menyusun laporan pertanggungjawaban, memasukkan data keuangan di sistem, mencairkan gaji, belajar pajak, and many more. It's totally different with the thing I used to handle, partnership. Ketelitiannya harus double or even triple dah. Berguru dan tandem dengan Mas Bagus rasanya memang tepat, uang yang dihandle lebih banyak dan permasalahannya lebih kompleks. Thanks a lot Mas, I owe you so much.

Berbeda dengan kerjasama yang load kerjaannya up and down, load di keuangan lebih stabil dan teratur. Akhir bulan mencairkan gaji, awal dan tengah bulan jadwalnya SPJ. Kalau di kerjasama banyak rapat, seremoni dan ketemu banyak orang, di keuangan kerjanya di balik layar. Dua hal yang berbeda, tapi aku mulai terbiasa dan bisa menikmatinya, meski tentu saja porsi kerjasama yang aku tangani jadi berkurang banyak.

Kalau ditanya passionku di mana, dengan mantap aku menjawab kerjasama. Tapi, keuangan sepertinya my second passion, hehehe. Aku pernah baca di satu buku, tapi aku lupa buku apa, di buku itu disebutkan bahwa sebenarnya kalau seseorang mau menggali potensi diri lebih lanjut, kemungkinan besar dia punya lebih dari satu passion, namun dengan grade yang berbeda. Anyway, aku senang diberi kesempatan ini, bisa menambah pengalaman dan teman. Semoga aku bisa menjalankan amanah ini dengan baik, aamiin.

Friday, May 26, 2017

Gerakan Hidup Sehat: Detox Buah dan Olahraga


"Exercise to be fit, not skinny. Eat well to nourish your body" (Anonim)

Salah satu resolusiku tahun ini adalah menerapkan pola hidup sehat. Dimulai dari menjaga makanan, detox dan olahraga. 

Detox buah
Aku sebenarnya sudah rutin melakukannya hampir setahun lalu. Sebulan sekali setelah siklus menstruasi, tapi karena siklus menstruasiku cenderung mundur, maka kemudian aku menjadwalkan tiap awal bulan. Biasanya aku melakukan detox buah selama tiga hari, pernah juga lima hari. Tergantung kondisi tubuh pada saat itu. 

Ketika melakukan detox buah, kita hanya boleh mengkonsumsi buah-buahan, sebisa mungkin buah-buahan non-pati dan memperbanyak asupan air putih, yaitu minimal 2 liter. Efek samping detox bisa berupa mual, pusing, sering BAK, BAB cair atau bahkan diare. Jangan berikan obat ketika efek samping tsb muncul, melainkan perbanyak asupan buah dan minum lalu istirahat.

Aku ingat, pertama kali nyoba detox, berujung aku dilarikan ke UGD oleh suami. Tubuhku lemas karena diare dan kepala pusing. Kesalahan waktu itu nggak pemanasan dulu. Langsung cut makanan lain selain buah. Selang dua atau tiga bulan kemudian, aku melakukan detox lagi. Tapi kali ini pakai pemanasan dulu. Hasilnya aku sukses melewati masa yang ditentukan, meskipun lemas dan diare tubuhku masih bisa mentolerirnya. Setelah selesai masa detox, berat badan biasanya akan turun 2-3 kilo. Beberapa waktu kemudian akan naik lagi, tapi tidak akan melebihi berat awal sebelum detox. Tubuh terasa enteng dan beberapa keluhanku seperti mudah capek atau kembung perlahan menghilang.

Selain detox buah, aku juga menjaga pola makan dengan mengurangi karbo, memperbanyak sayur dan buah, serta disiplin minum air putih minimal 2 liter per hari.


Olahraga
Langkah penting lainnya dalam menjaga hidup sehat adalah olahraga. Nah, olahraga yang aku pilih adalah Yoga dan jalan kaki. Yoga biasanya aku lakukan dua kali sehari, plus satu kali kelas Yoga di kantor tiap rabu. Sedangkan untuk jalan kaki, aku biasanya melakukannya di akhir pekan. Alasannya tidak diburu-buru waktu memasak dan belanja. Baik untuk yoga (di rumah) dan jalan kaki biasanya memakan waktu tiga puluh menit. Apabila diimbangi dengan olahraga teratur, kondisi tubuh aku akui lebih bugar. Emosipun lebih stabil. Berat badan, perlahan tapi pasti turun perlahan, dan itu lebih stabil. Nggak kayak diet-diet lain, yang pasca diet turun banyak lalu beberapa waktu kemudian naik lagi. 

Semoga tetap istiqomah ya menjaga pola hidup sehat ini, demi kehidupan yang lebih baik di kemudian hari.

Did you ever realize how much your body loves you? It's always trying to keep you alive. It's making sure you breathe while you sleep, stopping cuts from bleeding, fixing broken bones, finding ways to beat the illnesses that might get you. Your body literally loves you so much. It's time you start loving it back.

Bintang is Turning Five


Raising a child with special needs has been challenging, a hard work for us as the parents. Yet, having you in our life is the thing we'll be forever grateful, no regret.

Today you're turning five. Thank you for generating so much energy in our home. Because of you, every day of life is packed with adventure, new discoveries and fun. Wishing you abundant blessing, health and happiness.

We love you to the infinity and beyond.

Surabaya, May 5, 2017

Tuesday, May 23, 2017

Critical Eleven


Alkisah, Jumat kemarin Bapak masuk rumah sakit pasca terjatuh di pekarangan saat menyiram tanaman, kesibukannya setelah pensiun. Aku pun kemudian pulang, menunggui di RS. I was bored as I had nothing to do to kill the time, aku memutuskan untuk jalan kaki ke mall terdekat, beli buku. Aku menamatkan buku ini kurang dari 24 jam, luxurious me time I rarely had nowdays.

This book is really recommended. Alurnya bagus, ceritanya bagus, emosinya ngena banget. Banyak pelajaran yang bisa didapatkan. Tentang independensi, tentang komitmen dalam pernikahan, tentang kehilangan, tentang berjuang menyembuhkan sakit hati.


  1. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good nor bad, it just happens.
  2. Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, jangan mau gampangnya saja. Hal -hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.
  3. Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalaminya sendiri.
  4. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier.
  5. The best thing for being sad is to learn something. That is the only thing that never fails. You may grow old and trembling in your anatomies, you may lie awake at night listening to the disorder in your veins, you may miss your only love, you may see the world about you devastated by evil lunatics, or know your honour trampled in the sewer of based mind. There is only one thing for it then, to learn. Learn why the world wags and what wags it.
  6. In life, there are no heroes and villains, only various states of compromise.
  7. What's between a man and woman in a marriage is only between the man and the woman.
  8. Marriage is a little bit like gambling, isn't it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that.
  9. We didn't know what we really wished for.
  10. To women, how you deliver the message is sometimes more important than message itself.
  11. Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan.
  12. Kita sering lupa kisah cinta sejati itu tidak harus dari buku dan film yang mengaduk-aduk emosi saking pintarnya si penulis atau sutradaranya. Kisah cinta paling indah sebenarnya adalah yang ditulis Tuhan sendiri dan nyata di sekeliling kita.
  13. Namun jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi.
  14. Buying the ring is one thing, but proposing is a whole other thing.
  15. If we got all that covered, everything else will take care of itself, right?
  16. Banyak teori yang membahas seberapa besar sebenarnya kapasitas otak kita, tapi tidak ada yang pernah membahas kapasitas hati. Seberapa banyak dan seberapa dalam emosi yang sebenarnya kuat ditanggung hati kita, dan seberapa lama, sampai kita meledak atau menyerah.
  17. Tidak ada yang lebih menyakitkan dan menyedihkan dibanding dikhianati diri sendiri.
  18. Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.
  19. Kalau kita berbuat baik dan benar dan bisa membahagiakan orang, kita akan mendatangkan cinta buat sekitar dan diri sendiri.
  20. A dream is a wish that your heart makes.
  21. Some wish remains a wish for as long as we life. Bukan karena kita kurang berusaha, namun karena memang sudah begitulah takdirnya.
  22. Banyak hal di dunia ini yang semakin mudah jika semakin sering kita lakukan.
  23. Hati punya aturan dan caranya sendiri.
  24. Kita punya sekelumit bagian dari hidup yang bisa melumpuhkan kita seketika, tanpa aba-aba.
  25. Life is the sum of our choices.

Monday, April 10, 2017

Semalam Di Pacitan

Ini bukan pertama kali aku ke Pacitan, aku sudah beberapa kali pergi ke sana. Maklum, kota di pesisir Pantai Selatan Jawa ini, jaraknya dekat dengan Madiun, kampung halamanku. Namun ini baru pertama kali aku menginap di sana karena perjalanan dinas bersama teman kantor. Bertolak dari Ponorogo sekitar jam empat lebih sore hari, di perjalanan kami disuguhi pemandangan mata hari terbenam ke balik gunung, ditemani arakan awan. Cantik sekali. Sampai Pacitan sudah malam, sekitar jam delapan. Perjalanan memakan waktu lebih lama dari biasa karena ada jembatan yang sedang diperbaiki akibat terkena longsor. Karena badan sudah capek semua, kami pun langsung istirahat. Apalagi sore sebelum berangkat kami sudah mampir makan Sate di Ponorogo.


Hotel Prasasti Pacitan
Kami menginap di Hotel Prasasti Pacitan yang terletak di Jalan Imam Bonjol No 8 Pacitan, samping barat Alun-Alun Pacitan. Bagunan hotelnya bagus, tapi begitu masuk ke lobi dan mendapati area yang dipenuhi meja dan kursi makan, aku langsung tahu kalau sarapannya akan tampil sederhana. Dan ternyata tebakanku benar adanya. Aku mendapatkan kamar di lantai tiga, tidak ada lift di hotel jadi harus naik turun tangga. Kalau cuma jalan saja sih sebenarnya tidak mengapa, tapi kalau lagi bawa banyak barang ya lain cerita.

Kamar yang kami pesan adalah kamar tipe deluxe. Perabotannya sudah mulai ketinggalan zaman. Kamar mandinya tidak terlalu bagus dan bersih, dilengkapi dengan bath up namun penutup saluran buangnya tidak ada, ya sama saja nggak bisa dipakai berendam deh. Malam itu aku hanya cuci muka dan gosok gigi, lalu pergi tidur. 



Paginya, sebelum mandi dan sarapan aku pergi ke Pantai Teleng bersama Mbak Lilin, Mas Yusri, dan Mas Zainul. Meeting kami baru mulai jam sembilan pagi, daripada bengong mending ke pantai, apalagi pantainya dekat dengan hotel, sekitar 3 KM dari hotel. Baru saja sampai pantai eh gerimis, tapi tidak menyurutkan niatku dan Mbak Lilin untuk menikmati vitamin sea. Main ke pantai hukumnya wajib menikmati deburan ombak. Jadi kami berjalan ke arah datangnya ombak, menikmati kaki kami disapu ombak untuk beberapa saat. Tapi kami tidak berani jalan terlalu ke tengah, karena ombak pada saat itu sedang tinggi.

Pantai Teleng mempunyai luas sekitar 40 hektar dengan garis pantai yang cukup panjang, yaitu 2,5 KM. Pantai Teleng diapit oleh pegunungan, sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan dan pantai yang menyatu di satu waktu. Sarana dan prasarana di pantai ini sudah memadai, paling memadai di antara pantai-pantai lain di Pacitan. Ada persewaan alat pancing, persewaan tenda dan camping ground. Kayaknya asyik juga ya kemah menikmati suasana alam tapi tidak terlalu jauh dari fasilitas umum, apalagi untukku yang punya balita. Boleh tuh kapan-kapan dicoba.

Di pantai ini terdapat pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan sehingga tak sulit bagi pengunjung untuk menemukan ikan dan aneka olahannya. Tempo hari waktu berkunjung bersama keluarga, aku belanja ikan tuna asap, udang goreng, cumi goreng. Harganya relatif miring. Untuk olahan ikan yang paling terkenal adalah Tahu Tuna.

Setelah dari pantai, aku mandi dan sarapan. Sarapan yang tersedia hanya satu jenis, yaitu Gudeg Jogja. Sajian lainnya hanyalah teh, kopi, pisang dan Lemet Singkong. Sungguh sangat sederhana. Kupikir-pikir harga lima ratus ribu semalam terasa overprice kemudian. Hiks hiks hiks.



Siangnya, setelah meeting di Pemkab dan Jumatan, kami makan siang. Aku lupa nama restonya, yang pasti sih searah menuju Pantai Klayar. Mumpung di Pacitan, rasanya nggak afdol ya kalau belum mampir ke tempat wisata unggulannya. Tujuan kami kali ini adalah Pantai Klayar yang berjarak 40 KM ke arah barat kota Pacitan, tepatnya di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Perjalanan menuju ke sana memerlukan waktu sekitar satu setengah jam. 


 




Suasana Pantai Klayar siang itu sepi, maklum kami datang di hari dan jam kerja. Ombak sedang tinggi dan angin berhembus cukup kencang. Pantai ini mempunyai garis pantai yang sama dengan Pantai Teleng Ria. Sejauh mata memandang, pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih, batu karang dan tebing batu yang mengelilingi pantai. Pengunjung bisa juga menikmati pemandangan dari atas bukit.



Hal yang unik dan menarik dari Pantai Klayar adalah Seruling Laut. Fenomena di mana ada sebuah celah di batu karang yang ketika ombak datang dengan cukup keras, sebagian airnya masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas seolah sebuah air mancur raksasa yang ketinggiannya bisa mencapai 10 m. Air mancur ni juga disertai dengan bunyi mirip seruling. Hal lain yang menarik adaah di deretan tebing di sisi timur pantai terdapat karang yang bentuknya mirip patung Sphinx di Mesir. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman. Fasilitas umum seperti toilet dan mushola sudah tersedia. Beberapa ratus meter dari pantai ada banyak homestay.

Sekian dulu ya cerita dari Pacitan. Tetap sehat dan tetap semangat, supaya kita tetap bisa jalan jalan bekerjasama dan berbisnis. 😉

Friday, March 24, 2017

Hari Terakhir di Papua, Berkeliling dan Berfoto

Ini adalah tulisan terakhir tentang perjalan ke Papua. Jarak antar tulisan sebelumnya cukup lama ternyata. Hehehe.

Hari terakhir di Papua, kami punya waktu setengah hari berkeliling karena pesawat kembali ke Surabaya sore hari. Sebelum ke bandara kami sempatkan melintas dan mampir ke beberapa tempat untuk berfoto.

Kantor Gubernur Papua
Sebenarnya letaknya tidak terlalu jauh dari hotel, jalan kaki juga bisa. Kantor yang beralamat di Jl. Soa Siu Dok 2 Jayapura ini punya view pantai dan hill of Jayapura di depannya. Asyik banget kan kalau kantor punya view bagus, bisa buat refreshing







Salah satu yang aku kurang nyaman dari Papua adalah penduduk setempat suka meludah sembarangan. Mereka punya kebiasaan makan sirih, baik laki-laki maupun perempuan. Ludah merah ini bahkan aku temukan di bandara coba, hiks hiks.

Ludah Merah bekas sirih :(


Pelabuhan Jayapura






Perjalanan menuju bandara
Foto-foto berikut aku rasa cukup bisa menjelaskan bagaimana tanah Papua. Sebagian tanahnya subur sedangkan sebagian yang lain tandus, tanah merah dan berbatu. Namun, Papua sungguh mempesona. Apalagi di beberapa daerah, selain disuguhi pemandangan pegunungan, kami juga disuguhi laut dan danau sepanjang jalan.

 






Yougwa Restaurant
Jarum jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Kami mampir makan di Yougwa Restaurant yang searah dengan bandara. Bangunannya terapung di tepi Danau Sentani, asyik banget untuk menikmati pemandangan ditemani angin sepoi-sepoi.




Pesanan kami adalah Papeda, Cumi Rica-Rica, Tuming Kangkung Bunga Pepaya dan Sop Ikan. Ini adalah pengalaman pertamaku makan Papeda. Gak cocok deh sama lidahku, baru mau dikunyah udah langsung ngglenyer ke tenggorokan. Sagu enaknya dibikin bubur aja deh kalau buatku. Hehehe. Sop ikannya enak, tapi bukan favoritku juga. Aku pribadi lebih suka ikan digoreng daripada dibikin sop.




Beli oleh-oleh Abon Gulung 
Pemberhentian terakhir sebelum ke bandara adalah mampir ke Hawai Bakery, toko roti yang menjual abon gulung khas Manokwari. Roti ini tanpa pengawet, jadi hanya tahan 3 hari di suhu ruang atau 7 hari di kulkas. Rasanya memang enak sih, lembut. Abonnya gurihnya pas.



This trip is amazing. Thank you so much for Citilink Indonesia for inviting me to come to this wonderland. It's unforgettable.

We travel, initially, to lose ourselves; and we travel, next to find ourselves. We travel to open our hearts and eyes and learn more about the world than our newspapers will accommodate. We travel to bring what little we can, in our ignorance and knowledge, to those parts of the globe whose riches are differently dispersed. And we travel, in essence, to become young fools againg, to slow time down and get taken in, and fall in love once more. (Pico Lyer)