Monday, February 20, 2017

Semalam di Aston Madiun

Yuhuu, kembali lagi dengan review hotel dulu ya. Minggu lalu aku tugas ke Madiun dan sekitarnya. Aku menginap di Aston MadiunHotel and Convention Center. Sengaja nggak pulang karena Bapak Ibu lagi ada acara, dan juga sudah teler tentunya. Aston terletak di Jalan Mayjend Sungkono No 41, lokasinya strategis, dekat dengan pusat kota. Kemana-mana dekat, yaiyalah Madiun kotanya kecil. Sejam keliling juga kelar.



Aku memesan kamar deluxe, tapi karena lagi kosong aku dapat ugrade ke kamar premier. Yippiee... Kamar premier ini luasnya 40 m2 dengan tempat tidur queen, jadilah aku seranjang berdua dengan Ninoi. Meski dilengkapi dengan sofa dan bangku panjang, spacenya masih cukup luas, bisa tuh main pingpong di situ. Hahaha.




Kamar mandinya dilengkapi dengan bath up, meski nggak sempet berendam saking capek dan ngantuknya. Aku suka deh showernya nggak menyatu sama bath up, jadi bisa guyuran dengan leluasa. 


Amenities di kamar mandinya lengkap dan dikemas cantik. Tersedia juga hairdryer. 




Anda bisa menikmati city view dari kamar, maklum gunung jauh dari kota. 


Untuk sarapan aku acungi jempol deh. Lengkap dan enak, perpaduan menu internasional dan menu lokal. 


I was so excited to find Nasi Jotos there. Langsung ambil tanpa pikir panjang. Nasi Jotos itu semacam nasi campur. Berisikan nasi, mie, kering tempe, telor dadar dan sambal. Bungkusnya pun otentik kertas minyak dilapisi daun pisang. Dimakan sama kerupuk puli. Ulalala, nikmat tiada tara. Bring back my teenage memory banget dah. 



Menu tradisional lainnya ada Nasi Pecel dan Lontong sayur. Ada juga aneka kue dan jajanan tradisional. Lalu ada meja panjang yang berisikan cemilan tradisional seperti rangginan, keripik, kacang dan madumongso. Feel like at grandma's home deh. Urusan makanan Aston nih memuaskan lah, di Jayapura kemarin juga meski menu makanannya nggak selengkap yang di Madiun.


Wifi di sini bagus, pelayanannya cepat dan bagus. I love staying at Aston.

Thursday, February 16, 2017

Pesona Papua, dari Pantai Hingga Perbatasan

Sejak pertama kali mendaratkan kaki di sini, aku langsung jatuh cinta. Alamnya begitu mempesona. Keindahannya terpampang nyata. Danau, gunung, pantai, hutan, berjejer dengan cantiknya. Sungguh memanjakan mata, menangkan hati. Papua sebenarnya merupakan daerah yang kaya, karena menyimpan tembaga dan emas terbesar di dunia. Tapi masyarakat Papua masih banyak yang masuk golongan prasejahtera. Beberapa sebab yang terlihat nyata adalah faktor geografis dan faktor demografis. 

Hari kedua di tanah Papua, pulau terbesar nomor dua di dunia setelah Greend Land, agenda kami adalah jalan-jalan. Yuhuu, my trip my adventure. 

Melintas Perbatasan Antar Negara
Daerah Perbatasan terletak di Desa Skouw, Distrik (Kecamatan) Muara Tami. Jaraknya sekitar 70 KM dari pusat kota Jayapura. Perjalanan menuju ke sana ditempuh selama 1,5 jam. Kami mencarter mobil di Om Yusuf lagi dengan biaya sewa tujuh ratus lima puluh ribu sehari. Meskipun ke perbatasan, jalan yang kami lalui sudah bagus, sebagus di kota. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang cantik, tanah Papua memang mempesona.





Untuk melintas Pos Lintas Batas Negara (PBLN) tidak perlu paspor. Anda cukup menunjukkan KTP yang masih berlaku di pos penjagaan negara asal.



PBLN Skouw ini sedang direnovasi, beberapa bangunan masih belum difungsikan. Rencananya akan dioperasikan bus Damri antar negara.



PBLN adalah sebidang tanah tanah kosong dengan pagar di kedua sisinya, satu sisi milik Indonesia dan satu sisi milik PNG. Pengunjung boleh bepergian sampai radius sekitar 1 km.







Setelah melewati pos penjagaan di PNG, aku menemukan semacam terminal di mana penduduk PNG menunggu shuttle untuk kembali pulang ke daerahnya. Mereka biasanya berbelanja aneka kebutuhan seperti bahan makanan dan peralatan rumah tangga.



Di sekitar terminal terdapat beberapa ibu-ibu berjualan sovenir seperti kaos, topi, mug, payung dan gantungan kunci. Aku membeli mug dan gantungan kunci untuk kenang-kenangan. Selama berkeliling di PBLN, tidak diperkenankan untuk menggunakan kamera DSLR. Kami kena tegur petugas imigrasi waktu itu.

Kami bertemu dengan Christ, salah satu tentara PNG yang bertugas. Dia menunjukkan satu spot untuk menikmati alam Papua. Kami harus turun beberapa meter ke bawah, di sana ada sebidang tanah dan rumah. Untuk menikmati pemandangan kami dikenakan iuran sepuluh ribu rupiah. Masyaallah pemandangan di depan kami sangat cantik, gunung yang hijau dan laut yang biru.



Pantai Holtekam
Pantai Holtekam terletak di Desa Koya Utara, sekitar 30 KM dari Jayapura. Kami mampir ke sini sekembali dari Perbatasan. Suasana pantai siang itu sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang berwisata. Penyebabnya adalah saat itu hari kerja.




Pantai Hamadi
Pantai kedua yang kami datangi hari itu adalah Pantai Hamadi. Untuk pertama kalinya aku melihat pantai yang dipenuhi oleh pohon pinus, bukan pohon kelapa. Di sini juga sepi seperti di Pantai Holtekam, bedanya di sini fasilitasnya sudah lebih lengkap. Ada saung untuk duduk menikmati pemandangan dan toilet umum yang karcisnya seharga sepuluh ribu rupiah. Wow.

Baik Pantai Holtekam maupun Pantai Hamadi berombak tenang karena berada di teluk. Keduanya relatif aman untuk mandi dan berenang, namun tetap waspada ya jika ombak tiba-tiba membesar. Waktu itu sih aku cuma main-main di pinggir pantai saja, membiarkan kakiku diterpa ombak sambil menikmati semilir angin.




Pasar Hamadi
Setelah dari Pantai Hamadi, kami ke pasar sentral Hamadi. Sayang waktu itu sudah sore, sudah menjelang tutup. Yang tersisa hanyalah para penjual sayur mayur. Di sekitar pasar banyak toko yang menjual sovenir khas Papua, misalnya koteka, noken, patung dan hiasan dinding dsb. Aku membeli gantungan kunci saja.





Hill of Jayapura City
Dari atas bukit ini kami bisa melihat pemandangan kota Jayapura yang berada di bawah (lembah) dan dikelilingi oleh gunung dan pantai. Di bukit ini terdapat beberapa pemancar stasiun televisi. Senang rasanya berlama-lama di sini. Di atas bukit ini ada tulisan besar "Jayapura City" yang menyala di malam hari, lampu ini terlihat dari kota.




Setelah dari Hill of Jayapura City, kami mampir makan malam di PTC (Papua Trade Center). Menu kami malam itu menu Manado, ikan bubara bakar, cumi woku dan tumis bunga pepaya. Nikmat sekali rasanya, apalagi memang kami sudah lapar, hehehe.




Perjalanan hari ini sungguh mengesankan, alhamdulillah. Kami kembali ke hotel dengan penuh rasa syukur dan bahagia.


Bersambung.....

Wednesday, February 01, 2017

Singapore Chilli Crab


First created in the early 1960's, Singapore Chilli Crab is a delightful dish developed and enhanced over the years thru Chinese and Malay influences. The dish is practically an institution in Singapore today, having won accolades from both locals and visitors.

I never ate this famous dish in its origin country as it's too expensive for me. Then, I decided to buy the paste and cook it at home. It's so yummy, my husband said. ☺☺


Tuesday, January 31, 2017

Citilink Inauguration to Jayapura

Tarian Selamat Datang

Jayapura. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan ke sana. Betapa tidak, Papua itu jauh, tiket ke sana mahal, kantor tidak punya kerjasama dengan institusi setempat. Tapi ternyata Allah memberiku kesempatan ke sana melalui cara yang tidak terduga sebelumnya. Alhamdulillah, aku mendapatkan undangan inagurasi rute baru Surabaya - Jayapura dari Citilink Indonesia. Yayy, perjalan ke kota terjauh di Indonesia, yang pernah aku datangi, dimulai!!

inflight meal: Spaghetti Bolognaise

Aku berangkat bersama Belqis, perwakilan dari Airlangga Travel, perusahaan tour and travel milik UNAIR. Pesawat berangkat jam 07.10 WIB dari Surabaya, mendarat di Makassar jam 09.40 WIT. Makassar saat itu sedang hujan, antrian pesawat menumpuk sehingga pesawatku tidak kebagian garbarata. Begitu sampai arrival hall dan berfoto sebentar sudah ada panggilan boarding. Jadilah lari-lari ke gate. Penerbangan selanjutnya jam 10.40 WITA. Karena pagi belum sarapan, aku memutuskan untuk membeli makan di pesawat. Aku memesan Spaghetti Bolognaise. Berhubung rute baru, lagi ada promo yaitu paket makanan dan air mineral 330 ml dibandrol empat puluh ribu. Rasa masakannya secara keseluruhan lebih enak daripada Nasi Uduk yang pernah aku pesan tempo hari waktu ke Batam. Porsi segini pas banget, mengenyangkan. 

Beautiful view before landing at Sentani Int'l Airport

Selama di perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sangat cantik, kepualauan, gunung, pantai dan danau. Pemandangan yang paling cantik adalah sesaat sebelum mendarat. Di mana mata akan dimanjakan pemandangan Danau Sentani dikelilingi oleh Pegunungan Cycloops. Luas Danau Sentani adalah 9.360 hektar dengan 21 pulau kecil menghiasi danau. Kata Sentani pertama kali dikenalkan oleh Pendeta Kristen BL Bin pada tahun 1898. Arti kata Sentani adalah "di sini kami tinggal dengan Damai". Sedangkan Pegunungan Cycloops membentang sepanjang 36 KM dari barat ke timur.



Pesawat mendarat di Sentani jam 15.35 WIT. Jadi total perjalanan di dalam pesawat adalah 5 jam. Begitu mendarat pesawat langsung disemprot air dari mobil pemadam kebakaran. Lalu dilanjutkan dengan Tarian Selamat Datang. Menurut informasi dari Mas Awi (Citilink), semprotan air wajib hukumnya saat inagurasi rute baru. Uhh seneng banget deh bisa lihat penduduk asli Papua dalam pakaian tradisionalnya. 

menunggu turun pesawat untuk mengikuti prosesi


Yang terlebih dahulu turun adalah pilot, co-pilot dan pramugara/ri. Mereka mendapatkan kalungan Noken (tas dari serat kayu khas Papua) dan Topi. Ada satu pramugari keturunan Papua yang bertugas saat itu. Cantik dan ramah orangnya. Selanjutnya undangan diajak mengikuti prosesi inagurasi di satu ruangan khusus. Ada sambutan dari Citilink, Pemprov Papua, Angkasa Pura. Lalu ada pemotongan bunga. Acara selesai, kami meluncur ke hotel dengan taksi bandara.



Sekilas tentang Jayapura
Meski berada jauh dari ibukota negara, jangan bayangkan Jayapura itu terbelakang ya. Jalanan di sini sudah bagus dan mulus. Di pusat kotanya sudah ada mall dengan gerai kenamaan seperti gramedia, matahari, J.Co, Breadtalk, KFC, Pizza Hut dsb. Soal harga, memang bisa dipastikan lebih mahal karena biaya pengiriman bahan kebutuhan lebih mahal.

Untuk sarana transportasi ada taksi dan angkot. Kami sendiri selama di sini memakai taksi. Rate Taksi dari Bandara ke Kota sebesar dua ratus ribu. Terima kasih kepada salah satu staf Bank Papua yang telah memberikan kisaran harga jadi kami tidak kemahalan. Taksi bandara di sini soalnya agak berbeda, tarifnya pakai sistem tawar menawar dan bisa disewa.

Untuk komunikasi, menurut informasi Telkomsel paling juara. Tapi sayang pada saat itu sedang ada perbaikan fiber optic di area Papua, praktis semua jaringan telekomunikasi terganggu. Jangankan internetan, untuk menelpon saja putus-putus. Beberapa waktu bahkan tidak ada sinyal sama sekali. Satu waktu sinyal datang, ratusan pesan masuk. Lalu kemudian sinyal menghilang lagi. Begitu terus. Sisi baiknya adalah kami bisa menikmati perjalanan ini tanpa banyak "gangguan", inilah liburan yang sebenarnya, hehehe.

Nasi Padang Ala Jayapura

Urusan makanan tak perlu khawatir. Di sini banyak kok makanan dari daerah lain karena banyak transmigran. Aku dengan mudah menemukan Sate Ayam, Nasi Padang, Penyetan, Bakso, Soto. Kami sempat berkeliling sebentar di sekitar hotel mencari-cari tempat makan. Kami akhirnya menjatuhkan pilihan ke RM Padang dekat hotel dengan pertimbangan tempat bersih dan penjualnya muslim sehingga kami tidak perlu khawatir tentang kehalalan makanan kami. Urusan memilih makanan di sini harus hati-hati karena masyarakat setempat banyak yang mengkonsumsi Babi dan Anjing.

Malam itu kami makan Nasi Padang yang agak keluar dari pakem. Seumur-umur baru kali ini menemukan nasi padang dengan tumis bunga pepaya dan kremesan sebagai pelengkapnya. Aku memilih lauk ikan kembung bakar. Satu set menu ini dibandrol empat puluh ribu. Sedangkan es jeruk dibanderol lima belas ribu. Mahal ya dibandingkan di Surabaya. Tapi alhamdulillah rasanya enak, bunga pepayanya tidak pahit. Aku mulai jatuh cinta. Ikan kembungnya matang sempurna, empuk dan fresh.

Oiya, beberapa masyarakat Papua masih punya kebiasaan mabuk, mereka suka minum di jalan. Jadi sangat disarankan untuk tidak berada di luar di atas jam sembilan malam demi alasan keamanan. Om Yusuf, driver taksi kami berpesan kepada kami untuk itu. Alhasil, seusai makan, kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat. Capek hampir seharian di jalan.


Menginap di Aston Jayapura
Selama di Jayapura kami menginap di Aston Jayapura Hotel dan Convention Center. Lokasinya strategis di pusat kota, dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat perbelanjaan. Kami memesan kamar superior twin tanpa jendela. Alasannya, itu yang murah. Hahaha. Kami mendapatkan harga Rp. 550.000,- semalam. Meski demikian nyaman kok kamarnya, bersih dan terawat. Kami disambut sepasang patung khas Papua di lobi.



Menu makanan paginya enak dan beragam. Hari pertama aku makan kue-kue tradisional, omelet dan sop bakso. Sop baksonya enak banget. Lalu hari kedua aku makan sop daging, buah, perkedel dan siomay goreng. Sop dagingnya enak. Dagingnya empuk, kuahnya segar, wortelnya masih krenyes-krenyes. Oiya, smoothies pisangnya juga enak. Pokoknya semuanya enak, *pukpukperut*. 

Pelayanan di Aston bagus dan cepat. Untuk Wifi sinyalnya datang dan pergi tanpa permisi karena memang pada saat itu lagi ada perbaikan jaringan fiber optic di daerah Papua.








Aston Jayapura Hotel and Convention Center
Jalan Percetakan Negara No 50-58, Jayapura, Papua 99111
Telepon: (0967) 537700


Bersambung ......