Friday, October 13, 2017

Pindang Iga Khas Palembang


Setiap kali pulang dari satu perjalanan ke tempat baru, kalau nemu kuliner yang cocok selama di sana, aku akan mencoba memasaknya di rumah. Salah satu menu yang aku suka selama di Palembang adalah Pindang Iga Sapi. Berbeda dengan Asem-Asem Daging/Iga di Jawa Timur yang menggunakan kecap, Pindang Iga ini menggunakan ulegan cabai merah untuk warnanya. Rasanya segar, asam dan pedas. Aku memasaknya di Happy Call supaya daging lebih cepat empuk. Sejak punya Happy Call aku suka memakainya karena sangat membantu. Bisa juga untuk bikin roti bakar, bisa melelehkan keju mozarella tanpa harus repot mengeluarkan oven. Resep yang aku pakai adalah Pindang Tulang Khas Palembang dari MonicSimplyKitchen, dengan sedikit modifikasi yaitu penambahan cabai merah dalam bumbu ulegnya.


Happy Cooking, Happy Eating!!

Perjalanan Ke Palembang (Bagian 1)


Ini adalah perjalanan pertamaku ke Pulau Sumatera. Excited tentu saja. Perjalanan dari Surabaya ke Palembang ditempuh selama 1 jam 45 menit. Ada dua maskapai yang melayani direct flight SUB-PLM, Lion dan Citilink. Aku memilih Citilink dengan pertimbangan Lion sering delay. Harga tiket PP 1.2 juta, worth it. Beberapa saat sebelum mendarat, hujan datang menyapa. Rupanya di Sumatera sudah mulai musim hujan. Namun saat landing, cuaca cerah berawan.

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tidak terlalu besar. Dari arrival hall terlihat proyek pembangunan LRT Palembang. Ya, Palembang sedang berbenah menyambut perhelatan ASEAN Games 2018. Dari Bandara ke Hotel kami naik mobil sewaan, jaraknya sekitar 20 KM dengan waktu tempuh sekitar satu jam.


Hotel Aryaduta Palembang
Kami menginap di sini selama dua malam. Alasannya adalah hotel ini menjadi venue acara kami. Jadi biar praktis, kalau butuh istirahat dan sholat selama acara mudah. Hotel ini lokasinya strategis, dekat dengan pusat kota. Letaknya satu kompleks dengan Palembang Square Mall. Bangunan hotel sudah lama namun bersih dan terawat. Lobby terletak di ground floor. Pada saat check in agak lama karena tidak bisa group check in diwakili oleh seorang delegasi. Hotel meminta ID dari setiap penghuni kamar. Sembari aku mengurus check in, Saras mengurus registrasi simposium. Setelah semua beres, kami ke kamar untuk mandi dan menyimpan barang. Untuk naik lift, tidak perlu menempelkan kunci kamar ke alat yang ada di lift, karena alatnya tidak ada. Entah rusak atau apa. Sayang sekali ya kalau hotel bintang lima begini.



Kamar yang aku pesan adalah superior twin bed. Tampilan kamar seluas 23 m2 ini menurutku ala kadarnya. Kamar dilengkapi tempat tidur, televisi, pemanas air untuk kopi/teh, kulkas, bangku untuk koper dan lemari baju yang sangat kecil. Aku sangat menyayangkan jika hotel berbintang empat atau lima lantainya tanpa karpet dan tanpa tea chair and table di kamar.





Untuk kamar mandi, standar ya, dengan shower tapi dilengkapi hair dryer. Aku suka amenitiesnya, edisi Sebastian Gunawan yang wanginya enak dan tampil cantik.


Dari kamar aku bisa melihat pemandangan kota. Tepat di depan kamar ada kolam renang berstandar internasional, ukuran olympic size. Aku bisa tahu dari tulisan Sea Games Indonesia. Kolam renangnya selalu rame, pagi, siang, sore selalu ada yang memakai.







Sarapan pagi di resto di lantai 1. Beberapa makanan yang sempat aku coba adalah Salad, Omelet, Nasi Uduk, Pempek Kulit, Mie Ayam, Pompom Potato, dan Laksan. Pempek kulitnya enak, crunchy tapi tetap empuk digigit, terasa royal ikannya, namun tidak amis. Lalu pertama kali aku mencoba Laksan, fish cake yang menggunakan adonan pempek dibentuk kotak, dimasak dalam kuah santan pedas dan ditaburi bawang goreng. Lembut dan menghangatkan. Pilihan minumannya banyak, teh, kopi, infused water dan jamu.

Lalu selama acara berlangsung aku sempat mencoba mantau dan Nasi Minyak Khas Palembang. Aku pertama kali nyoba nasi minyak, modelnya sih seperti nasi lemak, bumbunya tidak setajam nasi dari timur tengah. Rasanya enak, apalagi ditemani sama Ikan Saluang Buta yang digoreng crispy. Secara keseluruhan masakan di sini enak dan recommended.



Aku juga sempat ngegym di sini. Cuma treadmill-an saja sih. Ruang gym terletak bersebelahan dengan kolam renang. Kedua Fasilitas ini sepi pengunjung saat aku ke sana, mungkin karena masih jam setengah enam pagi. Oiya, untuk wifi, kecepatannya baik dan stabil. Baik di kamar, hall maupun di resto sama baiknya.


Pempek Candy
Ketika googling tentang rekomendasi pempek, muncul sederet merek pempek yang semuanya mengklaim dirinya enak, ya iya lah ya namanya jualan. Sebagian rombongan pengen pempek, sebagian lain pengen mie celor. Lalu atas rekomendasi driver kami, pergilah kami ke Pempek Candy yang punya banyak pilihan menu, tidak melulu pempek. Lokasinya tidak jauh dari hotel kami, sekitar 10 menit berkendara dari hotel. Ruangan di Pempek Candy bersih dan rapi, sempat mbatin "jangan-jangan harganya mahal nih", ternyata tidak juga, harganya standar.



Selain pempek, ada otak-otak, tekwan dan Mie Celor, sisanya aku lupa. Hehehe. Aku memilih Mie Celor karena belum pernah nyoba sebelumnya. Mie Celor adalah mie kuah khas Palembang. Kuahnya creamy karena berasal dari santan. Mie bulat besar seperti udon hadir bersama udang dan telur rebus ditaburi bawang goreng. Harusnya ditaburi seledri juga, tapi seperti biasa aku memilih untuk skip that. Rasa gurih dalam kuah juga didapatkan dari kaldu udang dan/atau ebi. Kaya bumbu tapi nggak bikin eneg, so yummy!


Meskipun tidak pesan pempek, waitress akan menyajikan aneka pempek ukuran kecil dalam satu piring. Ada pempek lenjer, adaan, telor, kulit dan bakar. Jika berminat, Anda tidak harus menghabiskan semuanya, yang dihitung hanya per biji yang Anda makan. Pempeknya lembut, ikannya terasa tapi nggak amis sama sekali. Kuahnya sudah pedas tanpa perlu menambahkan sambal. Pempek Candy juga menyediakan aneka oleh-oleh khas Palembang. Ada kerupuk, kopi, tekwan dan pempek. Aku beli tekwan kering.


Jembatan Ampera
Selesai makan di Pempek Candy, kami menuju daerah Benteng Kuto Besak untuk menikmati pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Jembatan Ampera terletak di tengah kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Nama Ampera diambil dari kalimat Amanat Penderitaan Rakyat. Jembatan yang diresmikan di tahun 1965 ini mempunyai panjang 1.117 m dan lebar 22 m.



Bersambung ......

Thursday, October 12, 2017

Farewell From KSDN

Untuk alumni KSDN lain di manapun kalian berada.

Tujuh tahun dua bulan, perjalanan saya dengan KSDN menemui episode terakhirnya. Terhitung 1 Oktober 2017, saya dipindahkan ke Lembaga Pengembangan Bisnis dan Inkubasi. Mohon doanya semoga amanah di tempat menimba ilmu dan pengalaman yang baru.

Sesungguhnya banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil dari segala drama di balik map biru MoU. Mulai dari MoU dari langit, ketik ulang draft, tamu dadakan, ceremony sejam lagi, dsb. Kadang ngeselin, pernah beberapa kali bikin nangis, tapi sekarang bisa mengenangnya sambil tertawa “I’ve been there, done that”. Pengalaman bertemu dengan orang-orang baru sangatlah menyenangkan dan berharga untuk saya.

Terima kasih banyak untuk semua orang yang telah bekerjasama, membimbing, membantu, mengingatkan, membackup dan menjadi sahabat melewati segala dinamika yang ada. Tanpa kalian, aku bukanlah siapa-siapa. Working with you has been one of great joys of my life. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. 

Kindly keep in touch through my e-mail or personal mobile number. I wish you all the best for your future endeavors and hope that our path will cross again soon. Thank you


Regards,
Ratna Wahyu

Saturday, October 07, 2017

Sego Babat Ngagel Jaya

Beberapa waktu yang lalu aku kulineran dengan Saras, teman kantorku. Pilihan kami jatuh pada Sego Babat Ngagel Jaya. Alasannya, dari hasil googling warung ini termasuk salah satu yang direkomendasikan para food blogger. Lalu setiap lewat selalu rame. Kalau dari arah Bilka, lurus saja ke timur. Nanti warungnya di kiri jalan, di seberang Gereja Jawi Wetan.


Warung yang buka mulai jam 18.00 ini menyajikan menu sego babat, paru, usus, ayam dan empal. Aneka lauknya disajikan di atas meja sehingga pengunjung bisa memilih dengan mudah. Satu porsi reguler (dengan satu lauk) dibandrol 17 ribu, kalau nambah lauk per satu lauk dikenai 14 ribu. Waktu itu aku memilih Sego Babat extra usus, harganya 31 ribu.




Piring pesananku datang tak lama setelah kupesan. Jerohan kaya kolestrol hadir ditemani sambal korek, mangga serut dan serundeng. Sangat menggugah selera. Dari suapan pertama langsung tahu kalau porsi yang agak banyak ini bakal aku habisi begitu saja. Maklum waktu itu lagi lapar dan PMS *pembenaran*. Baik babat dan ususnya sangat empuk, bumbunya meresap sempurna. Gurihnya terasa. Sambal koreknya pedes nampol, bikin makan nggak berhenti hingga suapan terakhir.




Saran dariku, datanglah segera setelah warung buka, supaya tidak antri lama. Oiya, warung ini hanya menyediakan es teh dan es jeruk saja. Kalau mau minum jus bisa pesan di warung jus sebelahnya. Pilihlah jus buah yang kaya akan vitamib C, supaya meminimalisir lemak dan kolestrol dan masuk. Hihihi

Wednesday, October 04, 2017

Kwetiau Goreng Bakso


Assalamualaikum.

Postingan kali ini tentang cooking project lagi ya, yaitu Kwetiau Goreng. One side dish yang mudah dibuat ini cocok untuk menu sarapan atau makan malam. Resepnya aku nyontek dari Kwetiau Goreng Catatan Nina. Jazakillah sudah berbagi resep ya Mbak. Untuk isian aku sesuaikan dengan bahan yang ada di kulkas. Bisa udang, ayam atau bakso.

KWETIAU GORENG
Bahan:
1 bungkus kwetiau basah (aku pakai merek venus)
10 buah bakso sapi, iris tipis
1 genggam tauge 
1 ikat sawi hijau, potong-potong
3 sdm kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 sdt kecap asin
2 sdm saus tiram
gula, garam dan merica bubuk secukupnya
2 sdm minyak untuk menumis bumbu

Bumbu Halus:
5 siung bawang putih
3 butir kemiri sangrai

Cara membuat:
1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum dan matang. Masukkan bakso.
2. Masukkan kwetiau. Tambahkan kecap manis, minyak wijen, kecap asin dan saus tiram. Aduk hingga tercampir rata.
3. Bumbui dengan gula, garam dan merica. Koreksi rasa
4. Masukkan sawi dan tauge. Aduk rata dan masak sebentar saja. 
5. Sajikan dengan taburan bawang goreng, acar dan cabai rawit jika suka.

Mudah bukan? Selamat mencoba ya.

Happy cooking, happy eating!!


Tuesday, October 03, 2017

Vietnamese Rolls


Aku mengenal Vietnamese Rolls ini dari teman kantorku, Mbak Dewi. Resep yang sangat mudah dipraktekkan, tapi sehat dan enak. Bahan-bahannya bisa dilihat di foto di bawah ini.


Untuk sayuran bisa diisi suka-suka. Kali ini aku isi lettuce, wortel, kecambah dan nanas. Nanas ini tidak boleh ketinggalan karena menetralisir rasa langu dari sayuran mentah. Bisa juga diisi timun dan selada. Kalau mau lebih mendekati cita rasa khas Vietnam, tambahkan Coriander atau Daun Ketumbar. Berhubung susah mencarinya, aku skip saja. Sayuran ini cuma dibumbui perasan jeruk lemon atau bisa juga jeruk nipis dan kecap asin. Kalau suka pedas bisa ditambahkan irisan cabai rawit. Untuk unsur nabati aku pakai daging ayam. Dipotong kotak lalu ditumis dengan merica dan garam. Bisa juga diganti dengan udang. 

Vietnamese Rolls disajikan dengan saus asam manis, aku pakai sambal bangkok. Ada juga versi gorengnya, tapi pakai versi raw saja lebih sehat. Alhamdulillah bisa diterima oleh lidahku.

Happy cooking, happy eating!!

Sunday, October 01, 2017

Bintang's Cutting Skill



Masyaallah, alhamdulillah. Bintang shows a great progress on cutting skills. Maybe this is too late for kids at his age, but for a kid with special needs like him this is such a great achievement. Keep the spirit my dear. Thank you for teaching me not to give up easily on anything 😘😘 

Semalam Di Makassar, Ketika Perut Sangat Dimanjakan

Makassar adalah surga kuliner, rasanya hampir semua setuju. Berderet daftar kuliner siap memanjakan selera Anda. Coto, Sop Konro, Palu Basa, Es Pisang Ijo, Pisang Epe, Mie Titi, Nasi Kuning.

Sebulan yang lalu, ketika bertugas ke Makassar aku menyempatkan diri mencicipi beberapa kuliner andalannya antara lain Coto Nusantara, Konro Karebosi, Bakso Ati Raja, Sirup Markisa Tiara, Mantau dan Otak-Otak Bu Meitje. Bawaanku pun bertambah ketika pulang. Hehehe.

Coto Nusantara
Ini dia salah satu coto paling terkenal di Makassar. Lokasinya di Jalan Nusantara No 22 Makassar. Kalau dari Bandara ke Kota akan melewatinya. Depot Coto ini buka mulai jam 06.30 - 18.00 WITA. Suasana waktu itu cukup ramai, namun pelayanannya cepat.


Aku memilih Coto Daging, satu porsinya dibandrol dua puluh ribu rupiah. Kalau Anda suka jerohan, Anda bisa memilih Coto Jerohan atau Coto Campur. Semangkuk Coto hangat mendarat dengan mulus di perutku yang memang sudah lapar waktu itu. Kuahnya kental, kaya akan bumbu dan dagingnya empuk. Ada buras dan ketupat yang bisa Anda pilih sebagai karbohidrat pendampingnya. Meski disajikan dalam mangkuk kecil, jangan khawatir dagingnya sedikit ya. Dagingnya banyak kok, tenang saja. Kuahnya justru yang sedikit.



Aston Makassar
Dua tahun terakhir ternyata aku sering menginap di jaringan Aston. Aston Makassar aku pilih karena lokasinya strategis. Di Tengah kota, dekat dengan Pantai Losari dan pusat kuliner. Tak usah takut kelaparan. Kali ini aku menginap sekamar dengan Saras. Kamar kami tipe superior twin bed dengan pemandangan kota dan pantai. Kamarnya modern, bersih dan berkarpet. Dilengkapi sofa dan meja di dekat jendela, enak banget buat ngeteh sambil menikmati pemandangan. Tapi waktu itu aku menikmati pemandangan sambil kerja, buka laptop dan ngeprint-ngeprint. Asyik juga ya punya kantor pemandangannya pantai.






Kamar mandi dilengkapi amenities yang wanginya aku suka, hairdryer dan shower. Antara kamar dan kamar mandi hanya disekat oleh kaca, cocoknya sih buat honeymoon. Berhubung perginya sama Saras ya curtainnya diturunkan wkwkw.





Koneksi internet di kamar, di lobi dan di resto stabil. Tapi tidak ketika di Ballroom lantai 17. Koneksinya antara ada dan tiada. Ada indoor swimming pool, tapi aku lupa di lantai berapa. Yang jelas pemandangannya asyik di mata, bisa melihat kota dan pantai bersamaan.





Retoran terletak di lantai dua, pilihan makanannya macam-macam. Tapi entah kenapa aku justru tidak menemukan menu lokal hari itu.





Kuliner lain yang sempat aku coba adalah Konro Karebosi. Aku pilih konro bakar, bumbunya sih enak, meresap. Tapi sayang dagingnya masih alot. Jadi hanya sedikit yang bisa aku makan. Sebelum bertolak ke Surabaya, aku sempat mampir ke Bakso Ati Raja, Otak-Otak dan Mantau Bu Meitje untuk dibawa pulang.

So long Makassar, thanks for the experience!

Wednesday, September 27, 2017

The Raharja Goes To Malaysia (Part 3)

Salah satu keuntungan menginap di daerah KLCC adalah dekat dengan bangunan paling terkenal di Malaysia yaitu Petronas Twin Towers. PTT berada satu kompleks dengan KLCC Park, KL Convention Center, Aquaria KLCC dan Suria KLCC. Di kanan kirinya ada banyak hotel, alternatif tempat menginap, tinggal ikut kemampuan kantong. Tempat yang tidak pernah sepi dari wisatawan, apalagi waktu itu ada perhelatan SEA Games. Jujur, tidak banyak tempat yang stuning sebenarnya di KL. Maka, selain Genting, yang masuk daftar kami adalah Aquaria, KLCC Park dan Twin Towers.

Terletak di basement KL Convention Center, Aquaria tidaklah sulit untuk ditemukan. Buka jam 10.00-18.00 dengan tiket seharga 69 RM untuk dewasa dan 59 RM untuk anak-anak. Aquaria punya lebih dari 5000 jenis ikan. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Ada yang di kolam, ada yang di akuarium. Yang paling menarik tentu saja akuarium berbentuk terowongan karena membuat kita dikelilingi ikan. Bintang seneng banget lihat banyak ikan, apalagi yang besar. Dia bersorak-sorak ketika ikan lewat di dekatnya. Sayang panjangnya cuma 90m saja, kurang puas rasanya. Melihat luas yang ada, jujur harga yang dibandrol rasanya terlalu mahal.



KLCC Park
Ini dia tempat favorit Bintang selama di KL, tiap pagi dan malam selalu main ke situ. Jaraknya 850m dari hotel, namun perjalanannya nyaman banget karena lewat Skywalk yg dilengkapi AC. KLCC Park adalah taman terbuka di pelataran Petronas Twin Towers. Taman seluas 20 hektar ini dirancang oleh Roberto Burle Marx, arsitek asal Brazil. Ada berbagai tanaman langka, jogging track, playground, bangku taman, kolam renang, jembatan dan danau buatan. Fountain show berlangsung setiap jam 8, 9, dan 10 malam. Semuanya gratis dan tentu saja bebas asap rokok. Menyenangkan dan nyaman sekali berlama-lama di sini. Dari sini Anda bisa melihat Petronas Twin Towers dan KL Tower yang tersohor itu.
Mandatory photo kalau lagi ke KL di sini tempatnya. Menara ini dirancang oleh oleh Cesar Pelli, arsitek dari Argentina ini memerlukan tujuh tahun masa pembangunannya. Menara yang mempunyai 88 lantai dengan tinggi 451,9m ini pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada tahun 1998-2004 sebelum akhirnya dilampaui oleh Taipei 101. Tak heran, menara ini menjadi kebanggan warga Malaysia. Terdapat skybridge yang menghubungkan kedua menara di lantai 41 dan 42. Untuk dapat menaiki jembatan tersebut dan menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur dari ketinggian, pengunjung diharuskan membeli tiket terlebih dahulu.


Alhamdulillah, salah satu wish list untuk pergi bersama ke luar negeri terkabulkan. Semoga akan ada travelling abroad berikutnya ke belahan bumi yang berbeda. Aamiin