Skip to main content

Diantara Dua Cinta (Part 2)

Hmm... Apakah cinta membuat orang buta? Cuma mikir yang indah - indah saja. Hmm... Apa sih pengorbanan paling besar yang akan kita lakukan atas nama cinta? Apa iya, kecintaan kita pada sesorang harus dibuktikan dengan memberikan semua yang kita punya? Rasa - rasanya, itu konsep yang sangat jauh berbeda. Tapi sayangnya kita seringkali dibiaskan oleh cinta yang kita punya.

Contohnya ya cerita sahabat saya di postingan Diantara Dua Cinta (Part1). Dia rela memberikan keperawanannya pada sang kekasih dengan alasan cinta. Kecintaannya yang besar pada kekasihnya, yang menurut saya, bakal jadi bumerang buat dirinya sendiri. Alasannya klise, seperti yang sudah sering kita jumpai di sinetron atau cerita fiksi. Sang pacar memintanya dengan alasan untuk menguji seberapa besar cintanya, dengan mengatakan kalimat sakti "Kalau kamu benar - benar cinta sama aku, buktiin dunk. Tenang aja, nggak akan terjadi apa - apa", kalau sang pacar menolak dia akan terus membujuk, "tenang aja, kalau ada apa - apa aku akan tanggung jawab kok". Kalau nggak dikasih, dia biasanya akan ngambek, pasang tampang sedih atau marah - marah, sampai sang pacar akhirnya mengabulkan. Dan, taaarrrraaaa, terjadilah hal itu.

And after that "show", yang biasanya muncul adalah penyesalan, perasaan bersalah atau malah terjebak pada lingkaran hitam, ketagihan. Temen saya mengalami semuanya. Plus kekhwatiran yang amat sangat akan kehilangan atau ditinggalkan sang kekasih. Karena dia sudah terlajur bayar "down payment". Juga perasaan was - was, aib itu bakal terbongkar. Saya nggak habis pikir, kenapa dia begitu mudahnya terjebak dalam rayuan murahan itu. Kalau saya, mending putus aja deh, daripada harus memberikan sesuatu yang saya yakini sangat berharga ke dia. Toh, nggak ada jaminan dia bakal jadi suami nantinya. Daripada nyesel seumur hidup. Oh no..

Dulu, saya pernah emngalami kejadian serupa. Tapi nggak sampai kejadian. Waktu itu saya sangat kaget dengan permintaan jahat itu. Saya dirayu sedemikian rupa, tapi alhamdulillah saya masih bisa mikir dengan otak, bukan dengan hati. Saya menolaknya. Selain takut sama Allah, saya juga takut sama hukum sosial yang akan menimpa. Waktu saya berpikir tentang kata - kata penolakan yang baik, untungnya yang ada di otak saya, efek - efek negatifnya. Saya ketakutan. Saya inget kata - kata ayah saya "kalau sampai kejadian, silahkan pergi dari rumah ini dan jangan kembali lagi. Atau kalau tetap nekat balik, kamu akan kehilangan nyawamu".

Dan akhirnya saya memutuskan untuk menolaknya, meski ujungnya juga sangat tidak mengenakkan buat saya. Dia mencari perempuan lain, dan akhirnya memutuskan saya. Sakit, sangat sakit. Tapi saya mencoba bertahan sekuat tenaga. Saya sempat down, bagaimana tidak, hubungan yang sudah dibina bertahun - tahun berakhir karena masalah ini. Saya curhat sana - sini, demi mencari penguatan diri. Sahabat - sahabat saya memberi kata - kata mutiara yang saya jadikan penguatan dan renungan, diantaranya:
1. Kalau dia cowok yang baik, dia nggak akan ngrusak kamu.
2. Yakinlah, di luar sana ada seseorang bisa memberimu lebih. Entah siapa, kapan, di mana, pasti.
3. Dia bukan cowok yang baik untukmu, makanya Allah menjauhkannya dari kamu.
4. Allah answers a prayer in three ways. He says YES and gives u what U WANT. He says NO and gives U THE BETTER ONE. He says WAIT and gives U THE BEST. In his own time

And then, I made my own opinion, "he's not all that I think he is. He's not worth enough to have me in his life. In letting him go I'm loving my self". Dan satu lagi "I believe that God will give me the better one".

Kembali ke kasus yang menimpa sahabat saya. Saya sudah bosan mendengar cerita tentang ketidaknyamanan, kesengsaraan, ataulah penderitaan yang selama ini mereka rasakan. Dan si cowokpun juga mengeluhkan hal yang sama. Paginya, setelah semalamnya chat dengan yang cewek, aku chat dengan yang cowok. Dan seperti biasa versi cerita mereka berbeda, bertolak belakang malahan. Saya mengkroscek omongan mereka dan si cowok marah - marah karena si cewek dianggap memanipulasi fakta yang ada. Dia juga bilang kalau dia marah banget.. Makanya memutuskan untuk break sebulan, tanpa ketemu, tanpa komunikasi. Untuk introspeksi katanya. Hmmm.. Okey, kita tunggu saja gimana kelanjutannya. Semoga ada titik terang, ada jalan untuk kasus yang tak berkesudahan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...