Skip to main content

Me and Mr. Right

Mereka seringkali hanya melihat apa yang aku punya. Rumah, mobil, dan karier cemerlang. Mereka bilang aku sudah punya segala yang mereka impikan di saat usiaku masih muda. Tapi mereka tak pernah tahu apa yang sebenarnya aku rasa. Mereka tak pernah tahu bagaimana aku sebenarnya juga ingin seperti mereka. Punya keluarga seutuhnya.

Mimpiku untuk membangun keluarga sebenarnya sudah separuh jalan. Aku menikah dengan seseorang yang amat aku cinta. Laki - laki sederhana nan bijaksana. Kami sempat merayakan euforia ketika aku dinyatakan hamil tiga bulan setelah kami menikah. Aku masih ingat bagaimana suamiku amat sangat mencurahkan perhatian padaku dan pada calon buah hati kami. Namun, kegembiraan kami ternyata harus berakhir. Suamiku meninggal karena kecelakaan. Mimpiku untuk membesarkan buah hati bersama pupus sudah. Dia bahkan belum pernah melihat anaknya lahir.

Sekarang aku jadi single parent. It's never easy. Bukan karena aku tidak bersyukur, bukan. Selalu ada alasan untuk bersyukur kok. Toh masih banyak yang nasibnya nggak seberuntung aku. Tapiiii... deep down inside aku galau. Kadang aku berfikir untuk menikah lagi, meneruskan mimpi - mimpiku lagi. Namun, di satu sisi aku belum bisa move on. Jauh lebih susah move on ditinggal mati orang yang kita cintai daripada ditinggal kawin lagi. Why? Karena perjuangan menemukan Mr. Right wasn't easy.

Maka jangan ditanya apa yang kulakukan untuk menikam waktu. Meleburkan diri pada kesibukan. Seharian dalam hingar bingar dunia, lalu jatuh ke pelukan anak ketika malam tiba.

Hey kamu, Mr. Right yang baru akankah kita bertemu? Dalam doa aku merapalkan semua harapan. Kupasrahkan hidupku pada Yang Punya Kehidupan. Dialah yang akan menentukan, ke mana cerita hidupku akan mengalir kemudian.

Comments

vinkamaharani said…
FirBas banget inii.. ='(

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...