Skip to main content

Bintang: 8 months


Di usia delapan bulan ini, Bintang akhirnya punya gigi. Dua gigi bawah udah nongol sekitar dua minggu yang lalu. Bintang ini aktif sekali, selama melek selama itu pula dia bergerak entah buat mainan atau ngoceh :) Begitu bangun tidur, ngulet trus langsung duduk. Duduknya udah makin stabil dan lama kalau ada mainan yang menarik hatinya. Kalau nggak ya pasti udah ngrangkak  muterin rumah. Sekarang ngrangkaknya makin cepat. Udah mulai trantanan, bisa berdiri berpegangan bahkan cuma dengan satu tangan dan mulai bisa dititah. Udah bisa naik turun tempat tidur sendiri, bahkan spring bed yang tinggi. Ortunya jadi khawatir, makanya di lantai dipasang kasur busa buat pengaman in case dia terjatuh. I don't know why Bintang sukaaaa banget sama namanya kancing baju. Tiap kali nemu ada orang rumah yang pake kancing baju, terutama aku, dia pasti ngutek - ngutek tuh kancing. Bintang juga suka banget ngoceh, iyehh nurun emaknya :p, dengan babling yang aku nggak ngerti apa maksudnya, tapi selalu menarik buat diperhatikan. 

Kosakata yang bisa dia ucapkan adalah:
Yah = ayah
Mbah = Mbah
Daa = Dadah, Bunda
Caca = Cicak
Nenen = Nenen


Kalau mandi maunya ikut pegang shower, padahal ngarahin ke tubuhnya masih belum bisa. Dia seneng banget sama yang namanya mandi dan main air. Buat yang ini, beneran deh nurun ayahnya yang kalau mandi lamaaa :) Bintang udah mulai bisa menirukan orang di sekitarnya. Kemarin sore dia duduk di teras lihat anak - anak tetangga main di depan rumah. Salah satu permainannya adalah hompimpa, trus tahu - tahu Bintang setelahnya jadi suka menggerakkan tangannya ala hompimpa meski nggak sempurna. Nah, kalau kayak gini, harus lebih hati-hati dalam bertutur dan berbuat, biar Bintang niru yang baik - baik aja. *notetoself*

Soal makanan dia lahap, dia tipe anak yang sekali makan langsung banyak dengan frekuensi yang nggak bisa sering. Jadi, sehari - hari dia makan dua kali. Tiga kali sehari itu jarang - jarang. Mau kalau potongan atau jus buah. Kalau ada orang makan, pasti dikejar. Minta disuapin maksudnya. Karena makanan yang aku makan udah berbumbu, jadi aku suapin nasi aja ke dia. Dan dia dengan mudahnya buka mulut trus minta lagi :) Kalau makan udah bisa sambil duduk di booster chair-nya, kalau dulu kan mesti di pangku. Dia juga udah mulai tertarik buat pegang makanannya. Udah mulai nggak mau makan bubur halus, maunya makan nasi tim dan/atau apapun yang punya tekstur.

Sehat terus ya Mas... Semoga tumbuh jadi anak sholeh, cerdas dan bahagia... Ayah dan Bunda sayang kamu selalu :* :*

Comments

Popular posts from this blog

Nasi Pupuk

Nasi Pupuk adalah Nasi Campur khas Madiun. Biasa ada di resepsi perkawinan dengan konsep tradisional, bukan prasmanan. Makanya biasa juga disebut Nasi Manten. Isinya adalah sambal goreng (bisa sambel goreng kentang, krecek, ati, daging, atau printil), opor ayam (bisa juga diganti opor telur), acar mentah dan krupuk udang. Berhubung sudah lama tidak ke mantenan tradisional, jadi aku sudah lama banget tidak menikmatinya. So, membuat sendirilah pilihannya. Soalnya tidak ada mantenan dalam waktu dekat juga. Hehehe. Alhamdulillah bisa makan dengan puas :) Happy cooking, happy eating.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Cerita Tentang Pesawat Terbang

To invent an airplane is nothing.  To build one is something.  But to fly is everything.  (Otto Lilienthal) Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan. Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan.  Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat". "Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu. Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk...