Skip to main content

Simple Breakfast: Lontong Tahu

Image preview
Lontong Tahu


Menu sederhana ini tidak bisa aku jumpai di sini, jadi kalau kangen ya harus buat sendiri. Kecuali kalau lagi mudik, tinggal beli. Pagi ini aku membuatnya untuk sarapan. Kangenku pun lumayan terobati.

Bahan-bahan:  
Lontong, potong-potong (harusnya pakai Ketupat, tapi aku ganti karena lontong lebih mudah dibuat/dibeli)
Tahu goreng, potong-potong
Tempe goreng, potong-potong
Kacang Tanah goreng
Kecambah, cuci bersih
Sambal bawang, campur dengan kecap dan air (kekentalan sesuai selera)
Kerupuk

Caranya sangat mudah, tata lontong, tahu dan tempe goreng, tambahkan kacang tanah dan kecambah. Siram dengan sambal kecap. Sajikan dengan kerupuk. Sepiring lontong tahu siap disantap. Oiya, sebenarnya pakai taburan seledri cincang tapi berhubung aku nggak suka pake banget, jadi aku skip. Bintang juga mau lho menu ini, tinggal skip sambal aja. Etapi dia nyomotin punya ayahnya donk, dan itu pakai sambal. Bintang akhir-akhir ini emang lagi suka sama cabai, sumer-sumer gitu dia doyan. Hihihi.


happy cooking, happy eating

Comments

Popular posts from this blog

Nasi Pupuk

Nasi Pupuk adalah Nasi Campur khas Madiun. Biasa ada di resepsi perkawinan dengan konsep tradisional, bukan prasmanan. Makanya biasa juga disebut Nasi Manten. Isinya adalah sambal goreng (bisa sambel goreng kentang, krecek, ati, daging, atau printil), opor ayam (bisa juga diganti opor telur), acar mentah dan krupuk udang. Berhubung sudah lama tidak ke mantenan tradisional, jadi aku sudah lama banget tidak menikmatinya. So, membuat sendirilah pilihannya. Soalnya tidak ada mantenan dalam waktu dekat juga. Hehehe. Alhamdulillah bisa makan dengan puas :) Happy cooking, happy eating.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Cerita Tentang Pesawat Terbang

To invent an airplane is nothing.  To build one is something.  But to fly is everything.  (Otto Lilienthal) Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan. Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan.  Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat". "Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu. Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk...