Skip to main content

Menulis Naskah Pamitan


Sudah lama terlintas di otakku untuk menulis naskah pamitan yang akan aku baca ketika aku lamaran dan akad nikah kelak. Tapi hingga kini rangkaian kata itu tak kunjung berpadu sempurna, entah kenapa. Mungkin karena aku sudah lebih dulu trenyuh dan melelehkan airmata ketika membayangkan suasana saat aku membacanya. Jadilah aku berhenti menulis dan terbawa suasana, makanya sampai sekarang nggak jadi jadi juga.

Hari ini aku berniat untuk berpikir dan meneruskan tulisanku. Dan untuk itu aku harus bisa menekan emosiku, meski aku yakin pada saat aku benar - benar membacanya di muka umum nanti aku tak yakin bisa melakukannya. 

Tentang naskah pamitan
Aku punya keinginan ketika pamitan nanti bukan hanya sebagai prosesi, tapi juga memberikan makna dan kenangan yang lebih mendalam terhadap prosesi itu sendiri. Saat siraman misalnya, nggak hanya sungkem trus  ngloyor buat siraman. Berawal dari hobiku menulis sebenarnya, makanya aku ingin menulis sesuatu untuk mereka. Alasan kedua biar beda sama prosesi pengantin lainnya, meski aku menemukan beberapa orang juga melakukannya.

Gimana naskahku nantinya, akan aku publish sesudah acara... Sabar ya... :)

Comments

Popular posts from this blog

Nasi Pupuk

Nasi Pupuk adalah Nasi Campur khas Madiun. Biasa ada di resepsi perkawinan dengan konsep tradisional, bukan prasmanan. Makanya biasa juga disebut Nasi Manten. Isinya adalah sambal goreng (bisa sambel goreng kentang, krecek, ati, daging, atau printil), opor ayam (bisa juga diganti opor telur), acar mentah dan krupuk udang. Berhubung sudah lama tidak ke mantenan tradisional, jadi aku sudah lama banget tidak menikmatinya. So, membuat sendirilah pilihannya. Soalnya tidak ada mantenan dalam waktu dekat juga. Hehehe. Alhamdulillah bisa makan dengan puas :) Happy cooking, happy eating.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Cerita Tentang Pesawat Terbang

To invent an airplane is nothing.  To build one is something.  But to fly is everything.  (Otto Lilienthal) Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan. Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan.  Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat". "Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu. Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk...