Skip to main content

Relikui Penyelamatan ASIP :)


Aku seringkali mendengar atau membaca curhatan ibu - ibu menyusui yang mengeluhkan ASI-nya sedikit. Ada juga working mom yang harus pumping kejar tayang karena di kantornya nggak bisa pumping dengan leluasa, banyak kerjaan atau ketatnya aturan. Ada juga yang kurang atau bahkan tidak ada dukungan memberikan ASI dari lingkungan sekitar. Alhamdulillah saya nggak pernah mengalami kejadian tersebut. Sejak cuti aku sudah bikin jadwal pumping, tapi masih sering dilanggar karena banyak alasan, hehe. Pas cuti berakhir aku punya stok 190 botol ASIP @ 100ml.

Aku bersyukur atasan mendukung programku ng-ASI. Teman - teman pun pengertian meski awalnya memandang heran dan banyak bertanya, maklum "aksiku" ini termasuk hal baru buat mereka. Kantor memberiku waktu dan keleluasaan untuk pumping. Aku pumping tiap tiga jam sekali, meski kadang terpaksa harus skip salah satu jadwal karena ada kegiatan yang urgent dan nggak bisa ditinggalkan. Selama di kantor aku biasanya "memproduksi" 5-6 botol ASIP. Sedangkan Bintang selama ditinggal kerja, dari jam 7 sampai jam 5, biasa menghabiskan 4-6 botol ASIP. Kalau dikomparasi antara produksi dan kebutuhan alhamdulillah nggak defisit. Terlebih di rumah pun aku juga pumping 2-3 kali saat pagi dan malam. Jadi aku  bisa nabung rata - rata 2-3 botol per hari.

Sekilas menyenangkan. Dapat dukungan, pumping lancar, stok aman. Eitssss... tapi jangan salah. Hal menyenangkan ini akhirnya membawaku pada suatu "masalah" yaitu penyimpanan. Aku memang menyiapkan kulkas dua pintu khusus untuk menyimpan ASIP. Freezer dipakai untuk membekukan, chiller dipakai untuk transit dan mencairkan. Berhubung tiap hari nabung, akhirnya si freezer pun penuh dan berujung overload. Freezer kulkas dapur dan kantor pun "dijajah". Namun akhirnya mereka juga bernasib sama, overload. And then, chiller pun dimanfaatkan dengan alasan ASIP bisa bertahan di sana selama 3-8 hari. Awalnya santai, tapi lama - lama panik juga karena deretan botolnya tambah banyak sementara expired date-nya menghantui.

Sampai pada suatu pagi, sehabis packing buat mudik, aku baru menyadari kalau ASIP yang di chiller sedang dalam bahaya karena sudah mendekam di sana selama tiga hari. Kalau tidak segera diminumkan atau dibekukan bakal basi. Padahal sebentar lagi aku mudik. Artinya stok tersebut nggak akan kesentuh sama sekali karena selama mudik Bintang bakal nyusu langsung ke aku. Trus gimana ini? Masak dibuang? Demi Allah aku nggak rela, nggak pernah rela, untuk melakukannya. Aku teringat perjuangan mengumpulkannya yang nggak mudah, tetes demi tetes hingga akhirnya luber kayak gini. Tiap tengah malam dan dini hari aku bangun buat pumping sambil terkantuk - kantuk. Setiap hari kalau ke kantor selalu bawa bag pack, macam anak SMA yang sekolahnya full day, biar bisa nampung pumping stuffs seperti cooler bag, ice pack, botol kaca, plastik ASIP dan breast pump. Dan itu nggak ringan sodara - sodara.

Dulu buang satu botol karena kecampuran darah aja aku nggak tega, nyuruh orang lain untuk melakukannya karena nggak kuasa menahan air mata saat inget perjuangannya. Lhah ini, ada 40 botol. Mana mungkin aku bisa mengikhlaskannya begitu saja? Membayangkan hal itu terjadi saja aku sudah nangis, gimana kalau beneran terjadi? Could never imagine. Mungkin aku bisa pingsan.

Melihatku menangis, Bintang jadi rewel. Ikut merasakan tampaknya. Dia sepertinya juga sedih kalau harus merelakan asupan nutrisi satu-satunya dibuang begitu saja. Lantas suami datang menghibur. Ia menawarkan untuk membeli freezer baru, kali ini yang deep freezer biar bisa nampung lebih banyak botol dan plastik ASIP. Aku bersyukur banget suami mendukung penuh program ngASI ini. Dia selalu ada saat aku berkeluh kesah, menyemangatiku, memijitku saat aku lelah, menyelimutiku dan mengolesiku lotion anti nyamuk saat aku ketiduran sehabis pumping, membantu mengganti celananya bintang waktu dia BAB atau BAK tengah malam.

Kami pun mulai browsing, survey toko dan harga. Ternyata pencarian yang namanya freezer ini nggak mudah. Nggak semua toko elektronik jual. Kalau ada yang jual, pilihan merek dan tipenya nggak banyak. Sepertinya sih berhubungan erat dengan permintaan pasar. Setelah ngumpulin info, kami sepakat untuk membeli freezer dengan mengesampingkan beberapa kebutuhan dan keinginan lain yang masih bisa ditunda. I thank to God karena kegawatan ini terjadi di bulan Ramadhan. Kenapa bisa begitu? Karena pada bulan ini THR keluar. Yang artinya kalau beli freezer baru, meski harus mengusik tabungan, namun nggak akan mengganggu cash flow buat urusan mudik dan lebaran. 

Siangnya aku menelepon toko elektronik tersebut. Menanyakan stok. Ternyata barangnya nggak available di semua cabangnya. Cuma ada di cabang Margorejo, Malang dan Sidoarjo. Aku pun mulai sedikit bernnafas lega. Malamnya, sepulang dari les, aku dan suami langsung meluncur ke TKP. Setelah berkeliling kompleks pertokoan yang bukan jajahan kami, kami pun bertemu dengan yang nama the-most-wanted-and-urgent-thing-ever. Legaaa rasanya. Tapi ternyata cerita tidak berakhir dengan begitu mulus. Stok yang ada bukan yang empat rak, tapi yang lima rak. Harganya lebih mahal seratus lima puluh ribu. Hampir over budget. But it's okay, beli dah. Namanya juga butuh. Tapi ternyata tuh barang nggak bisa langsung dikirim karena load pengiriman sudah over. Bisanya H+2 lebaran. Huaa, langsung lemes lagi deh. Mengingat desakan kebutuhan. Butuhnya kan sekarang, sebelum mudik, biar stok aman.

Aku langsung telepon saudara buat nitipin ASI ke mereka. Mereka setuju. Rencana untuk menunda transaksi sampai habis lebaranpun terlintas di pikiran. Tapi mbak pramuniaga bilang "ini stoknya di gudang tinggal satu mbak". Panik lagi deh. Okey, sembari nunggu barang dikirim dan ASIP dititipin, aku harus segera mengambil keputusan. Dan keputusannya adalah transaksi sekarang, karena kalau tidak barangnya bisa hilang. Aku nggak mau episode panik ini bertambah panjang.

Pagi tadi sehabis subuh, aku menitipkan ASIP-ku ke tempat saudara. Well, sekarang aku sudah bisa bernafas lebih lega. Bisa mudik dengan tenang sambil berharap dan terus berdoa semoga nggak ada kejadian listrik padam yang bisa mengancam kelangsungan asupan nutrisinya Bintang. Amin...

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2010

Seperti tahun - tahun sebelumnya, ketika penghujung tahun dan menjelang pergantian ke tahun yang baru, saya biasanya memberikan waktu untuk merenung. Merefleksi segala yang telah terjadi di tahun itu. Memahami dan mempelajari, mengapa bisa terjadi seperti itu, dan tentu saja belajar dari kejadian tersebut, mengambil hikmah darinya. Setelah itu, saya menyusun daftar resolusi, ambisi dan harapan untuk satu tahun ke depan. And h ere's my must to do list for the upcoming year 2010: Hold tighter to my faith. Meningkatkan iman dan takwa. Jadi lebih religius. Menjauhi larangan dan melaksanakan segala perintah-Nya. Sholat lebih khusyu', ngajinya harus lebih rajin, infaqnya nggak boleh berhenti. Nggak hanya ngerjain yang wajib, tapi yang sunah juga. Jadi lebih dewasa dan bijaksana. Kata pepatah "menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan". Dan saya memilih yang kedua, I'm still trying to.. Positive thinking. Biar nggak cepet stres. Konon, positive thinkin...

Pria Enggak Mau Wanita Pedekate Lebih Dulu

KOMPAS.com - Apa yang sebenarnya diharapkan pria dari sosok wanita, sehingga ia tak mungkin berpaling kepada wanita lain? Aih... kesannya sungguh sulit. Namun menurut Lisa Daily, kolumnis relationship dan penulis buku Stop Getting Dumped , hal ini bukannya tak mungkin. Dalam bukunya, Daily menjamin kita bisa menemukan pria impian, dan menikahinya dalam waktu tiga tahun atau kurang. Ia sendiri mengikuti nasihatnya sendiri, dan menikah dengan pria impiannya, yang melamarnya di puncak Menara Eiffel setelah berpacaran 6 bulan. Daily telah mewawancara ratusan pria single untuk mengetahui apa sih yang membuat wanita berpotensi menjadi istri mereka. Coba lihat beberapa penemuannya: 1. Anda memiliki banyak aktivitas . Dengan demikian, Anda bisa menyibukkan diri tanpa harus bergantung pada keberadaan si dia. Anda bebas bepergian dengan teman-teman atau keluarga. "Anda tak perlu mengharapkan kekasih untuk selalu ada di sisi Anda," ujar Daily. Dengan kata lain, Anda tak perlu menunggu ...

Antara Aku, ASI dan Surabaya

Kata orang, tinggal di kota besar perlu banyak biaya. Barang yang murah hampir tiada. Kerasnya hidup kian terasa. Dan itu memang benar adanya. Meski begitu, ada sisi menyenangkan dari tinggal di Surabaya. Banyak pilihan yang tersedia. Yang paling kerasa adalah dokter dan rumah sakit banyak adanya. Aku jadi bisa milih mana yang paling pas dengan kebutuhan dan kantong tentu saja. Di Surabaya. Salah satu mimpiku terwujud. Bisa IMD, rooming in dan ketemu konselor laktasi. Hingga bisa lancar menyusui. Bisa nyetok ASIP bahkan mendonorkannya kepada mereka yang membutuhkan. Sekarang  Bintang sudah lulus ASI ekslusif. Senang bisa melewati seperempat perjalanan menyusui. Memang sih biaya dokter dan RS lebih mahal di Surabaya. Tapi jauh lebih menyenangkan dan memudahkan ketimbang hidup di kota kecil yang dokternya masih jarang atau malah nggak ada. Aku bersyukur tinggal di Surabaya. Ah ya, Surabaya memang punya banyak cerita b...