Skip to main content

Nasi Biryani Ayam



Tinggal di Surabaya membuat pengalaman kulinerku bertambah. Aku jadi suka mencoba makanan ini itu, kalau cocok beli lagi, kalau nggak ya nggak usah beli lagi. Nah, makanan Timur Tengah ini salah satu contohnya. Makanan yang nggak pernah aku temui selama di Madiun, tapi kemudian suka. 

Setelah beli, tantangan selanjutnya adalah bikin sendiri. Nasi Biryani ini meski bumbunya banyak, bisa bikin sendiri di rumah dengan bantuan bumbu instan. Kalau kemarin-kemarin pakai Shan, kali ini pakai National. Secara rasa sih sebenarnya sama enaknya, cuma si National ini lebih kuning warnanya. Jadi lebih cantik gituu.
.


So, this is it: Nasi Biryani ala Ratna. Ditemani suwiran telur, acar, taburan bawang goreng dan emping melinjo yang lupa kefoto. Ayamnya digoreng sebentar karena aku nggak suka kalau ayamnya tampil putih polos, berasa makan ayam mentah 😅😅

Happy cooking, happy eating!

Comments

Popular posts from this blog

Nasi Pupuk

Nasi Pupuk adalah Nasi Campur khas Madiun. Biasa ada di resepsi perkawinan dengan konsep tradisional, bukan prasmanan. Makanya biasa juga disebut Nasi Manten. Isinya adalah sambal goreng (bisa sambel goreng kentang, krecek, ati, daging, atau printil), opor ayam (bisa juga diganti opor telur), acar mentah dan krupuk udang. Berhubung sudah lama tidak ke mantenan tradisional, jadi aku sudah lama banget tidak menikmatinya. So, membuat sendirilah pilihannya. Soalnya tidak ada mantenan dalam waktu dekat juga. Hehehe. Alhamdulillah bisa makan dengan puas :) Happy cooking, happy eating.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Cerita Tentang Pesawat Terbang

To invent an airplane is nothing.  To build one is something.  But to fly is everything.  (Otto Lilienthal) Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan. Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan.  Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat". "Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu. Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk...