Skip to main content

Cerita Bintang Opname


Assalamualaikum.

Hallo semuanya. Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat wal afiat ya. Ini postingan pertamaku di tahun 2015. Aku melewati akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015 di Rumah Sakit karena Bintang sakit. Benar-benar pengalaman tak terlupakan.

Berawal dari Rabu siang, aku ditelepon Mbak Yuyun, tetangga depan rumah, yang mengabarkan kalau Bintang muntah-muntah dan lemes. Aku yang saat itu sedang makan siang langsung menyudahinya, lalu berkemas dan pulang. Sampai rumah aku mendapati Bintang tiduran lemas, wajahnya tampak sayu, matanya cekung. Dia dehidrasi karena muntahnya banyak, dan terakhir-terakhir yang keluar cuma air. Dia bilang "Peyutku sakit buk".

Aku dan mbah segera berkemas. Kami pergi ke RSI Jemursari, selain karena paling dekat rumah, di sanalah DSA langganan praktek. Di jalan Bintang tidur, karena memang belum tidur siang. Plus capek juga muntah-muntah. Mengingat keadaannya yang demikian, kuputuskan untuk membawanya ke UGD, dengan harapan cepat tertangani tanpa antrian panjang selayaknya bila di poli. Tapi ternyata keputusanku salah, memang cepat tertangani, tapi diagnosanya tidak melegakan di hati. Di UGD Bintang divonis amandel, makanya dia susah makan dan jadi lemes. Padahal Bintang tidak susah makan, siang sebelum muntah dia masih makan seperti biasa. Bintang lemas karena muntah-muntah. Dokter jaga juga bilang kalau Bintang tidak dehidrasi.

Tidak puas dengan diagnosa tsb, aku meminta keluar. Lalu mengantri di poli. Suami pun pulang lebih cepat, menyusul kami ke RS. Suami datang sesaat sebelum Bintang dipanggil. Begitu masuk ruangan praktek, DSA langganan yang memang sudah aku telepon sebelumnya, langsung komentar, ini sudah dehidrasi, matanya sudah cekung. Setelah melakukan pemeriksaan, Bintang diputuskan untuk diinfus, karena diberi cairan pun dia juga muntah. Aku mengurus administrasi untuk opname, suami sama Mbah menjaga Bintang, menunggu diberi tindakan yaitu pasang infus dan ambil darah. Duh, sumpah, aku paling nggak tega lihat Bintang ditusuki jarum kayak gitu, apalagi ditambah mendengar tangisannya. Aku nggak kuat lihatnya, jadi Bintang ditungguin Mbah. Aku membelakanginya sambil berurai air mata dan komat-kamit baca doa. 

Selesai pasang infus dan ambil darah, drama memilukan itu belum usai. Bintang harus puasa untuk mengistirahatkan lambungnya. Bintang sebenarnya lemas dan ngantuk, tapi dia nggak bisa tidur tanpa pengantar, yaitu nenen. Bintang tidak perlu ASI, dia lebih butuh kenyamanan. Kami memutuskan supaya aku meninggalkannya di kamar bersama Ayah dan Mbah, aku "sembunyi" di Musholla. Tiga jam berlalu, tapi Bintang tak kunjung tidur. Sesekali Bintang menangis mencari aku, sungguh hatiku pilu. Kalau bukan karena kebaikannya, tentulah aku sudah menyerah. Jam sepuluh kurang, aku kembali ke kamar, aku mendekati Bintang. Bintang menyambutku dengan mata berbinar, mengulurkan tangan minta dipeluk dan mencari nenen. Belum sampai lima menit menyusu, Bintang sudah tertidur. 

Besoknya, bangun-bangun anaknya sudah ceria. Sudah mulai aktif. Bosen di kasur, duduk di bawah, pindah ke kasur penunggu, minta keluar kamar, minta jalan-jalan dan mau makan minum seperti biasa. Alhamdulillah enggak muntah. Suhu tubuhnya juga normal. Senang donk Bundanya. Etapi hati kembali mellow lihat hasil lab yang menunjukkan positif ada kandungan bakteri Salmonella Typhi. Okey, fix. Bintang masih harus stay lebih lama untuk mendapatkan perawatan. Tapi karena Bintang sudah bisa makan minum seperti biasa, di hari kedua, Bintang lepas infus di sore hari setelah menghabiskan tiga botol infus.

Selama Bintang dirawat para eyang datang ke Surabaya untuk ikut menjaga, I'm so blessed. Bintang cucu pertama, jadi pusat perhatian, jadi kesayangan. Kehadiran beliau-beliau cukup membantu, selama aku mandi, ngurus ini itu, atau suami pulang ke rumah buat naruh cucian kotor, Bintang ada yang jagain.

Setelah dua hari diberi obat, Sabtu pagi Bintang ngelab lagi. Alhamdulillah hasilnya membaik. Bintang boleh pulang, dirawat di rumah. Selasa besok kontrol lagi. Semoga hasilnya semakin membaik.

Sehat terus ya Mas. :*

Comments

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...