Skip to main content

Rendang Kering


Weekend kemarin Bapak datang, aku dibawain daging banyak banget. Lalu muncullah ide untuk membuat Rendang Kering. Untuk memasaknya, aku pakai bumbu instant dari Bamboe, tapi aku tambahkan takaran santannya karena aku juga menambahkan bumbu merah yang stocknya tinggal dua sendok makan. Ketimbang ngganggur, mending dimanfaatkan. Hehe.

Proses memasak Rendang ini perlu kesabaran karena untuk mendapatkan Rendang yang cokelat dan kering butuh waktu yang lama. Rendang harus dimasak dalam api kecil. Aku kemarin butuh waktu tiga jam. Pas awal-awal sih enak, bisa ditinggal, ngaduknya sesekali saja biar santan nggak pecah. Tapi untuk mengeringkan, harus terus diaduk supaya tidak lengket atau gosong. Capek memang, tapi bener-bener worth it. So far, this is the best Rendang I ever made. Aku terharu aku bisa menyelesaikan cooking project ini dengan baik dan sukses.

Nggak heran ya kalau harga Rendang itu mahal, ada harga yang harua dibayar untuk proses yang tidak mudah.


Happy cooking, happy eating!

Comments

Popular posts from this blog

Nasi Pupuk

Nasi Pupuk adalah Nasi Campur khas Madiun. Biasa ada di resepsi perkawinan dengan konsep tradisional, bukan prasmanan. Makanya biasa juga disebut Nasi Manten. Isinya adalah sambal goreng (bisa sambel goreng kentang, krecek, ati, daging, atau printil), opor ayam (bisa juga diganti opor telur), acar mentah dan krupuk udang. Berhubung sudah lama tidak ke mantenan tradisional, jadi aku sudah lama banget tidak menikmatinya. So, membuat sendirilah pilihannya. Soalnya tidak ada mantenan dalam waktu dekat juga. Hehehe. Alhamdulillah bisa makan dengan puas :) Happy cooking, happy eating.

Penjual Nasi

Aku kagum pada seorang ibu penjual nasi Selalu semangat mengais rejeki Meski umurnya sudah tidak muda lagi Setiap hari dia selalu bangun pagi - pagi Demi hidangan secepatnya tersaji Karena kalau kesiangan sedikit, pembeli sudah pergi Catatan dari pengamatan di sebuah pasar

Cerita Tentang Pesawat Terbang

To invent an airplane is nothing.  To build one is something.  But to fly is everything.  (Otto Lilienthal) Naik pesawat terbang buat sebagian orang adalah makanan sehari-hari. Surabaya - Jakarta bisa PP dalam sehari, lalu esoknya terbang ke kota lainnya lagi. Tapi, bagi sebagian orang naik pesawat terbang adalah kemewahan, atau malah masih sekedar harapan. Aku ingat betul, ketika aku masih kecil, sumuran anak taman kanak-kanak, aku punya cita-cita naik pesawat. Setiap kali ada pesawat terbang melintas, aku mendongakkan kepala dan melambaikan tangan.  Seusai ritual itu, aku akan bertanya "Bu, kapan aku bisa naik pesawat". "Nanti kalau kamu sudah besar, belajar yang rajin ya", jawab Ibu. Pada saat itu aku cuma mengangguk, tidak menanyakan lebih lanjut apa hubungan antara naik pesawat dengan rajin belajar. Yang pasti, mimpi itu tetap terpatri. Ketika usiaku semakin bertambah, aku menjadi lebih paham bahwa sebenarnya naik pesawat tidak masuk...