Skip to main content

Semalam Di Pacitan

Ini bukan pertama kali aku ke Pacitan, aku sudah beberapa kali pergi ke sana. Maklum, kota di pesisir Pantai Selatan Jawa ini, jaraknya dekat dengan Madiun, kampung halamanku. Namun ini baru pertama kali aku menginap di sana karena perjalanan dinas bersama teman kantor. Bertolak dari Ponorogo sekitar jam empat lebih sore hari, di perjalanan kami disuguhi pemandangan mata hari terbenam ke balik gunung, ditemani arakan awan. Cantik sekali. Sampai Pacitan sudah malam, sekitar jam delapan. Perjalanan memakan waktu lebih lama dari biasa karena ada jembatan yang sedang diperbaiki akibat terkena longsor. Karena badan sudah capek semua, kami pun langsung istirahat. Apalagi sore sebelum berangkat kami sudah mampir makan Sate di Ponorogo.


Hotel Prasasti Pacitan
Kami menginap di Hotel Prasasti Pacitan yang terletak di Jalan Imam Bonjol No 8 Pacitan, samping barat Alun-Alun Pacitan. Bagunan hotelnya bagus, tapi begitu masuk ke lobi dan mendapati area yang dipenuhi meja dan kursi makan, aku langsung tahu kalau sarapannya akan tampil sederhana. Dan ternyata tebakanku benar adanya. Aku mendapatkan kamar di lantai tiga, tidak ada lift di hotel jadi harus naik turun tangga. Kalau cuma jalan saja sih sebenarnya tidak mengapa, tapi kalau lagi bawa banyak barang ya lain cerita.

Kamar yang kami pesan adalah kamar tipe deluxe. Perabotannya sudah mulai ketinggalan zaman. Kamar mandinya tidak terlalu bagus dan bersih, dilengkapi dengan bath up namun penutup saluran buangnya tidak ada, ya sama saja nggak bisa dipakai berendam deh. Malam itu aku hanya cuci muka dan gosok gigi, lalu pergi tidur. 



Paginya, sebelum mandi dan sarapan aku pergi ke Pantai Teleng bersama Mbak Lilin, Mas Yusri, dan Mas Zainul. Meeting kami baru mulai jam sembilan pagi, daripada bengong mending ke pantai, apalagi pantainya dekat dengan hotel, sekitar 3 KM dari hotel. Baru saja sampai pantai eh gerimis, tapi tidak menyurutkan niatku dan Mbak Lilin untuk menikmati vitamin sea. Main ke pantai hukumnya wajib menikmati deburan ombak. Jadi kami berjalan ke arah datangnya ombak, menikmati kaki kami disapu ombak untuk beberapa saat. Tapi kami tidak berani jalan terlalu ke tengah, karena ombak pada saat itu sedang tinggi.

Pantai Teleng mempunyai luas sekitar 40 hektar dengan garis pantai yang cukup panjang, yaitu 2,5 KM. Pantai Teleng diapit oleh pegunungan, sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan dan pantai yang menyatu di satu waktu. Sarana dan prasarana di pantai ini sudah memadai, paling memadai di antara pantai-pantai lain di Pacitan. Ada persewaan alat pancing, persewaan tenda dan camping ground. Kayaknya asyik juga ya kemah menikmati suasana alam tapi tidak terlalu jauh dari fasilitas umum, apalagi untukku yang punya balita. Boleh tuh kapan-kapan dicoba.

Di pantai ini terdapat pelabuhan dan Tempat Pelelangan Ikan sehingga tak sulit bagi pengunjung untuk menemukan ikan dan aneka olahannya. Tempo hari waktu berkunjung bersama keluarga, aku belanja ikan tuna asap, udang goreng, cumi goreng. Harganya relatif miring. Untuk olahan ikan yang paling terkenal adalah Tahu Tuna.

Setelah dari pantai, aku mandi dan sarapan. Sarapan yang tersedia hanya satu jenis, yaitu Gudeg Jogja. Sajian lainnya hanyalah teh, kopi, pisang dan Lemet Singkong. Sungguh sangat sederhana. Kupikir-pikir harga lima ratus ribu semalam terasa overprice kemudian. Hiks hiks hiks.



Siangnya, setelah meeting di Pemkab dan Jumatan, kami makan siang. Aku lupa nama restonya, yang pasti sih searah menuju Pantai Klayar. Mumpung di Pacitan, rasanya nggak afdol ya kalau belum mampir ke tempat wisata unggulannya. Tujuan kami kali ini adalah Pantai Klayar yang berjarak 40 KM ke arah barat kota Pacitan, tepatnya di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Perjalanan menuju ke sana memerlukan waktu sekitar satu setengah jam. 


 




Suasana Pantai Klayar siang itu sepi, maklum kami datang di hari dan jam kerja. Ombak sedang tinggi dan angin berhembus cukup kencang. Pantai ini mempunyai garis pantai yang sama dengan Pantai Teleng Ria. Sejauh mata memandang, pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan pasir putih, batu karang dan tebing batu yang mengelilingi pantai. Pengunjung bisa juga menikmati pemandangan dari atas bukit.



Hal yang unik dan menarik dari Pantai Klayar adalah Seruling Laut. Fenomena di mana ada sebuah celah di batu karang yang ketika ombak datang dengan cukup keras, sebagian airnya masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas seolah sebuah air mancur raksasa yang ketinggiannya bisa mencapai 10 m. Air mancur ni juga disertai dengan bunyi mirip seruling. Hal lain yang menarik adaah di deretan tebing di sisi timur pantai terdapat karang yang bentuknya mirip patung Sphinx di Mesir. Di sekitar pantai terdapat warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman. Fasilitas umum seperti toilet dan mushola sudah tersedia. Beberapa ratus meter dari pantai ada banyak homestay.

Sekian dulu ya cerita dari Pacitan. Tetap sehat dan tetap semangat, supaya kita tetap bisa jalan jalan bekerjasama dan berbisnis. 😉

Comments

Popular posts from this blog

Bintang GTM

Seminggu ini menjadi salah satu minggu yang membuatku sedih. Bagaimana tidak, Bintang yang selama ini pemakan segala mendadak GTM. Usut punya usut, dia lagi sariawan. Ini sariawan yang kedua. Setelah yang pertama sembuh, sekarang kok ya nongol lagi. Mana kejadian ini muncul ketika Bintang recovery dari batpil, di mana saat itu makannya tidak seperti biasanya. Ya iyalah, orang sakit mana gampang makannya. Sedih lihat Bintang jadi agak tirus gitu pipinya. Makannya dikit geraknya banyak, nggak bisa diam. Ngocehnya juga banyak. Sedih juga ngebayangin berapa BBnya sekarang. *sembunyikan timbangan. Selama sariawan Bintang jadi sedikit makannya. Di sariawan pertama dia masih mau makan meski harus bubur. Masih gampang juga nyuapinnya. Di sariawan yang kedua susahnya minta ampun, dia lebih sering GTM. Aneka masakan sudah aku coba, aku sengaja memasakkan aneka menu favoritnya. Tapi cuma disentuh seimprit, itupun kalau dia mood. Kesabaran semakin menipis karena khawatir kekurangan asupan...

Cerita Dari Jogja (Part 2)

Bandara Adi Sucipto: tampak depan Kali ini aku akan bercerita tentang bandara yang ada di Jogja, yaitu Adi Sucipto International Airport. Meskipun bertaraf internasional, bandara ini termasuk kecil secara luasan bangunan dan landasan. Beda jauh dengan bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta. Ruangan kedatangan domestiknya nggak terlalu gede, bisa dikatakan kecil malah, "cuma" dilengkapi tiga baggage claim.  boarding room antrian masuk pesawat Untuk boarding room, berbeda dengan bandara lainnya yang bebentuk persegi panjang, di bandara ini bentuknya setengah lingkaran. Karena jumlahnya cuma satu, maka penumpang dari berbagai maskapai akan bercampur baur di sini. Boarding room ini dilengkapi 4 gate untuk naik pesawat. Cuma kemarin pas aku check in , di boarding pas s ku tertera gate 0. Berhubung ini baru pertama kali terjadi, daripada tersesat di bandara, aku bertanya ke salah satu petugas yang ada. Dari beliau, aku mendapatkan informa...

Menggapai Bintang

Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Keluar dari semua dominasi Meraih semua mimpi yang kau miliki Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Dan aku tak akan menahanmu lagi Meski dengan berat hati Mungkin inilah saat yang tepat untukmu pergi Menyibak langit kelam yang selama ini memayungi Demi menemukan bintang yang paling terang untuk kau jadikan teman hidupmu nanti Hari di mana kemungkinan untuk pergi datang lagi...